Sebenarnya sudah lama saya ingin pergi ke Bukit Panenjoan Cibadak. Bukit ini ada di Desa Panenjoan Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi. Ada banyak jalan rute untuk menuju kesana, baik itu dengan jalan kaki trekking melewati kebun atau bisa juga melewati jalan desa dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Tempat wisata di Cibadak menarik juga yaa
Table of Contents
Rute Menuju Bukit Panenjoan Cibadak Via Pamuruyan
Saya dan suami menggunakan motor menuju Bukit Panenjoan Cibadak. Rute yang kami pilih menuju Bukit Panenjoan adalah via Pamuruyan. Patokannya adalah Jembatan Pamuruyan dekat pasar Cibadak. Naah dari jembatan ini ada jalan belokan menuju Desa Warnajati. Kalau dari Pasar Cibadak belokannya tuh persis setelah jembatan belok kiri langsung. Sementara kaau dari arah jalan tol Parungkuda jembatannya ada di sebelah kanan.
Naah, kalau sudah menyusuri jalan desa malinggut- Neglasari, lurus saja tuh sampai nanti ada pertigaan. Naah, saya belok kiri menuju Jalan kalabang. Hampir saja saya dan suami salah jalan, suami mau lurus saja. Tiba tiba ada bapak-bapak yang sedang berkumpul di warung berteriak bahwa kami sebaiknya memilih jalan belok ke kiri. Jalan yang belok ke kiri itu lebih dekat katanya dibandingkan dengan jalan yang terus lurus.
Akhirnya, kami memilih jalan belok ke kiri dan jalannya mulai menanjak. Tapi tidak se ekstrem tanjakan Cikidang atau tanjakan ke Cidahu seperti saat saya kemping di Kasumi resort. Jalan menuju Bukit Panenjoan cukup mudah ditemukan di google maps. Total perjalanan dari belokan Jembatan Pamuruyan kurang lebih empat kilo dan menempuh perjalanan selama dua puluh menit.
Perjalanannya santai, sambil menikmati pemandangan. Asli sepanjang jalan apalagi saat sudah dekat ke Bukit Panenjoan tuh pemandangannya buaguuus banget. Kota Cibadak terlihat dari atas. Masjid Darul Matin dan sekolah saya juga terlihat jelas.

Kondisi Jalan Menuju Bukit Panenjoan Cibadak
Sepanjang perjalanan saya melalui jalan desa. Jalanan yang tidak begitu lebar, tapi cukup untuk papasan dua mobil kok. Kondisi jalan memang tidak begitu bagus karena aspalnya sudah banyak terkelupas tapi masih bisa kami lalui dengan baik. .
Namun, saat mendekati Bukit Panenjoan jalannya agak offroad dan akhirnya beberapa saat sebelum menuju Bukit, bahkan tidak beraspal alias jalan tanah saja. Saya membayangkan ini kalau musim hujan pasti lumayan crowded jalannya.
Saya sih lebih nyaman menggunakan kendaraan motor dibandingkan dengan membawa mobil kalau hendak menuju kesana via jalur Pamuruyan ini. Soalnya jalannya kecil jadi kalau papasan mobil, mayan ribet. Tapi ternyata banyak juga masyarakat yang berkunjung menggunakan mobil angkot. Mereka mencarter angkot untuk menuju Bukit Panenjoan.
Saat di atas ternyata banyak juga saya jumpai pengunjung yang datang dengan berjalan kaki ke Bukit Panenjoan via Jalan Pamuruyan yang tadi saya bersama suami lewati. Ah kalau begitu sih saya juga nanti mau jalan kaki saja deh, trekking menuju Bukit Panenjoan. Tapi dengan jalur trekking via hutan bukit belakang Kebon Randu….penasaran saya.
Suasana Di Atas Bukit Panenjoan
Begitu sampai di Bukit Panenjoan pertama yang saya lihat adalah lahan parkir. Lahan parkir cukup luas bisa menampung banyak mobil dan motor. Lapangan parkir diberi paving blok dan sekelilingnya masih berupa tanah saja tidak beraspal sama sekali.

Setelah memarkirkan motor disana, saya dan suami langsung naik ke atas bukit. Bagian paling atas Bukit Panenjoan disebut juga dengan Puncak Damin. Ternyata setelah saya sampai ke atas ternyata lokasinya itu berupa lapangan luas. Sepertinya sih ini sudah diratakan yaa soalnya sudah rapi sekali.
Kondisi bukit di bagian atas itu berundak undak dengan posisi setengah lingkaran. Saya sempat turun sampai undak ketiga. Hamparan bukit ini sayangnya tidak ada rumputnya. Saya juga tidak tahu yaa kenapa ini rumputnya seperti habis , apa mungkin karena sudah lama tidak turun hujan sehingga rumputnya sudah tidak ada. Mudah-mudahan kalau hujan sudah turun kembali, bukit akan kembali hijau.
Di atas bukit itu tepat di tengah bagian depan lapangan, ada batu besar dan banyak pengunjung yang berfoto disitu. Waah, bagus juga yaa foto dari situ. Suami yang berencana hendak kemping di Bukit Panenjoan, dia berkeliling mencari kamar kecil. Ternyata toilet ada di Bukit Panenjoan. Kondisinya cukup bersih dan airnya cukup banyak.

Pemandangan Indah di Bukit Panenjoan
Sejauh mata memandang saya melihat pemandangan indah sekali. Kota Cibadak terlihat jelas, Bukit Gunung Walat yang berada tepat di belakang Al Bayan nampak gagah berdiri. Jalan berkelok-kelok terlihat jelas dari atas dengan beberapa mobil merayap berjalan pelan. Bangunan SD Negeri panenjoan yang tadi kami lewati sekarang terlihat begitu jelas dari atas bukit.




Saat saya melayangkan pandangan ke arah kiri nampak bukit dengan pohon sawit yang rimbun berwarna hijau terhampar dengan indahnya. Sebagian besar kebun-kebun yang saya lihat dari atas bukit nampak gundul tidak ada rumput dan pepohonan. Sepertinya lama tidak turun hujan sudah membuat bukit-bukit tersebut benar-benar dalam kondisi kering.
Apa yang Bisa dilakukan di Bukit Panenjoan?
Setelah berkeliling ke sekitar bukit, sepertinya banyak juga lho yang bisa saya lakukan saat berkunjung ke Bukit Panenjoan ini.
Kemping
Naah, ini dia hal pertama yang saya pikirkan kalau main ke Bukit panenjoan lagi adalah kemping. Kami membawa tenda sendiri dan berbagai peralatan kemping lainnya. Saat saya berkunjung kesini ada tenda yang berdiri di bukit undakan kedua. Tapi, mau gak mau kalau hendak kemping saya harus membawa mobil biar leluasa membawa barang perlengkapan kemping.
Asyik banget niih kemping di Bukit Panenjoan. Kebayang deh saat malam melihat pemandangan kota Cibadak penuh kelap kelip lampu. Saat pagi dan sore menjelang saya bisa melihat sunset dan sunrise dari atas Bukit Panenjoan.

Jajan di Warung
Jangan khawatir soal makanan saat main ke Bukit Panenjoan. Pas saya naik ke bukit eh ternyata ada banyak warung berjejer di samping bukit tepat sebelum hutan Bukit Panenjoan. Jadi belakang lapangan Puncak Damin ini masih berupa kebun dan hutan. Naah, warung-warung disini tuh semacam pembatas antara bukit dan hutan.
Harga makanan di warung masih relatif murah lho. Aneka gorengan seperti bala-bala, tempe goreng harganya masih dua ribu saja, oh iya di warung paling depan mereka menyediakan teh panas gratis. Jadi saya bisa makan gorengan sambil minum air teh panas. Duuh sedap sekali.

Ada juga warung menjual aneka kopi untuk diseduh. Mereka menyediakan dan membuatkannya langsung dengan harga lima ribu saja satu gelasnya. Murah kaan….kkopinya juga bisa minta sesuai keinginan lho mau panas atau dingin. Saya dan suami membeli dua gelas kopi di salah satu warung. Saat hendak pulang mampir dulu deh ke warung yang dekat parkiran membeli bala-bala dan minum teh panas.
Selain warung ada juga yang menjajakan jualannya dengan berkeliling. Seperti penjual es krim yang saya lihat saat berkunjung ke Bukit Panenjoan. Mereka menjual es krim dengan harga lima ribu rupiah. Murah-murah yaa harga jajanan disini. Saya jadi ingat saat membeli pisang goreng di kafe pojokan Perpusnas harganya enam ribu wkwkwk….Memang yaa tempat itu menentukan harga dan bisa membuat makanan naik kelas. Padahal pisang gorengnya sama/
Menyewa Kursi dan Meja Kemping
Naah, ada lagi niih sesuatu yang menarik saat saya berkunjung ke Puncak Bukit Panenjoan. Saya melihat ada beberapa meja kecil beserta dua kursi khusus yang biasa digunakan untuk kemping. Saat saya mendekatinya, oh ternyata ada seorang pemuda yang menyewakan meja dan kursi ini.
Dan kamu tahu gak berapa harganya? Waah, sungguh di luar dugaan saya. Harganya sangat murah karena biaya sewanya hanya lima ribu rupiah saja dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Kata akang yang menyewakannya, saya dan suami bisa menyewa kursi dan mejanya semaunya kami saja. Sampai saya dan suami mau pulang.


Akhirnya, kami menyewa satu meja dan dua kursi untuk duduk di depan lapangan di atas Bukit Panenjoan. Masya Allah ternyata akang yang sewain kursi serta meja ini baik sekali. Kami bisa memesan kopi melalui dia, terus dia anterin lagi kopinya ke kami yang sedang duduk-duduk santai ini.
Berfoto dan Membuat Video
Saat saya duduk menikmati pemandangan sambil menikmati kopi, Eh, ternyata akang yang menyewakan meja dan kursi juga menawarkan untuk memotret kami pula. Dan, ternyata hasil fotonya baguus sekali. Ah benar benar rezeki tak terduga. Terima kasih ya kang,,,,
Setelah puas duduk sambil menikmati kopi, saya lanjutkan kegiatan di Bukit Panenjoan ini dengan mengambil foto-foto pemandangan indah dari berbagai sisi. Selain berfoto pengunjung bisa banget mengabadikan dokumentasi di Bukit Panenjoan dengan mengambil video.



Rute Pulang Via Jalan Bantar Muncang
Naah , untuk rute kepulangan, kami memutuskan tidak melewati jalan Pamuruyan. Saya dan suami melewati jalan yang tembus ke Bantar Muncang. Jadi dari parkiran jangan mengambil jalan yang ke kiri yaa tapi ke arah kanan menuju arah bawah bukit.
Saat meninggalkan parkiran , petugas parkir mengenakan biaya parkir dua ribu saja. Sementara untuk masuk ke area Bukit panenjoan sendiri itu GRATIS ya pemirsa, sekali lagi saya bilang GRATIS….waah beneran deh liburan murah meriah banget nih jalan-jalan ke Bukit Panenjoan. 😍😍
Kesan Berkunjung ke Bukit Panenjoan
Bukit Panenjoan saat ini sedang gundul tidak ada rumput yang tumbuh dan cenderung berdebu karena tanah yang tidak tertutup rumput. Namun, pemandangannya sangat indah memesona. Baguus sekali pemandangan dari sini tuh. Saya sih berharap semoga suatu saat nanti dapat dikelola secara lebih profesional sehingga dapat tertata dengan lebih baik lagi.
Atau memang sebenarnya sudah ada yang mengelola tapi masih dalam tahap pengembangan. Saya bisa bilang begini karena melihat jalannya sudah tertata dan di bagian bawah ada beberapa gazebo serta bangunan seperti villa gitu deh.Bukit Panenjoan cocok banget kalau dibuat untuk wisata camping ground dan cafe di atas bukit. Akses jalan sudah ada tinggal diperbaiki kalau mau mulus.
Soal kebersihan bagaimana? Saya rasa masih minim tempat sampah yaa karena masih ada banyak sampah bertebaran di beberapa tempat.
0






















