Pagi ini saya memutuskan jalan ke Sukabumi bersama suami. Perjalanan mengendarai motor saja, biar kalau macet gak kejebak dan bisa selap selip. Tujuan pertama adalah makan bubur ayam Raden, lokasi bubur ayam favorit kami berdua.
Naah, setelah makan saya gak langsung beranjak pergi tuh. Suami mengecek rute terlebih dahulu. Rupanya , dia penasaran dengan jalur ke Kadudampit melalui Jalan Kabandungan. Jadi rencana saya dan suami tuh abis makan bubur mau ke Curug Sawer Kadudampit. Namun, tidak akan melewati jalan utama melainkan melipir ke jalur utara melalui Jalan Kabandungan.
Table of Contents
Rute Bubur Ayam Raden – Kadudampit Via Jalan Kabandungan
Untuk menuju Kadudampit , dari bubur ayam Raden kita melaju menuju arah Secapa. Nanti akan bertemu dengan belokan ke kanan menuju Jalan Kabandungan. Saya belok kanan dari Jalan Bhayangkara ke arah Jalan Kabandungan. Motor melaju teruus saja melewati Jalan Kabandungan ke arah atas. Naah, nanti ada pertigaan yang menuju ke Jalan parungseah. Saya pun belok ke arah kiri ke arah Jalan Parungseah.
Saya terus saja menyusuri jalan tersebut. Trek nya tuh menanjak dan menurun melalui jalan desa. Tapi jalannya bagus kok, jadi enak aja menyusurinya meskipun jalan nya naik turun dan berkelok-kelok. Setelah melewati Jalan Parungseah nanti tuh saya melewati Jalan Keramat Cipetir. Teruuus saja ikuti jalan utama.

Naah, setelah melewati jalanan sekitar tujuh kilometer nanti akan bertemu dengan pertigaan utama dan bertemu dengan jalan Raya Kadudampit. Lega deh jika sudah bertemu dengan Jalan Raya Kadudampit ini berarti udah deket nih. Kalau menurut saya sih yaa melewati jalan ini lebih enak naik motor karena jalannya tuh agak sempit gitu.
Oh iya, nanti tuh keluarnya dekat dengan GOR Icuk Sugiarto yaa..Jadi di Kadudampit itu ada GOR bulu tangkis milik atlet nasional zaman dulu yaitu Icuk Sugiarto. Naah, pertigaan tempat kita keluar dari arah Kabandungan tuh gak jauh dari situ.
Oke , akhirnya saya melewati jalur ke Kadudampit dari arah Jalan Kabandungan kota Sukabumi. Next, yuuk kita lanjutkan perjalanan menuju Curug Sawer.
Rute Tercepat ke Curug Sawer Melewati Jembatan EMHA Kadudampit
Dua tahun lalu saya pernah berkunjung ke Curug Sawer melalui gerbang utama Lembah Purba Suspension Bridge. Perjalanan dari gerbang menuju Curug Sawer lumayan memakan waktu beberapa menit yaa sekitar tiga puluh menit. Tapi kata suami ada lagi jalan menuju Curug Sawer ini yang lebih dekat dan bahkan dekat sekali. Hanya memerlukan waktu kurang lebih lima menit saja dari pintu loket utama. Terus kemana rute tercepat menuju Curug Sawer ini?

Jadi, dari jalan Raya utama Kadudampit terus saja naik ke atas. Perjalanan agak terhambat sedikit karena ada pawai drumband memenuhi hampir seluruh badan jalan yang sempit. Jadi terpaksa jalannya motor merayap pelan.

Setelah melewati kemacetan, nanti saya melewati pertigaan besar. Kalau ke kiri itu menuju terminal Wisata Kadudampit dan arah jalan masuk Jembatan Gantung. Sementara kalau ke arah kanan nanti akan melewati jembatan EMHA. Saya menggunakan jalur ke kanan melewati Jembatan Emha.

Naah, jembatan EMHA ini bisa menjadi patokan rute menuju Curug Sawer. Setelah melewati jembatan berwarna kuning tersebut tidak jauh dari sana sekitar lima ratus meter nanti saya akan menemui belokan ke arah kiri yang ditandai portal berwarna hijau.

Sebelum belokan menuju curug, banyak pedagang berjejer di pinggir jalan. Kalau misalnya ragu-ragu kamu bisa berhenti dulu saja untuk bertanya kepada warga yang berjualan disana. Jadi cukup mudah mencarinya. Setelah saya belok ke jalan tersebut ikuti saja jalan utama itu, nanti akan bertemu dengan gerbang pertama menuju Curug. Disini motor saya disuruh parkir dan membayar tiket parkir sebesar lima ribu rupiah.

Saya menyempatkan mampir ke warung yang persis terletak di pinggir gerbang masuk untuk membeli air mineral. Yuuk kita lanjutkan perjalanan. Kata petugas parkir sih enggak begitu jauh koq. Jalur yang saya lalui ini orang menyebutnya juga dengan jalur Cinumpang.
Apa yang Saya Temui Dari Gerbang Pertama Menuju Gerbang Tiket ke Curug?
Dari gerbang pertama tempat memarkir motor, saya harus berjalan kaki beberapa saat menuju gerbang pintu masuk ke Curug Sawer. Jalannya menurun tajam dan sempit tapi sudah di tembok jadi tidak licin.
Sebelum memasuki jalan menurun tersebut jalanan cukup lebar. Saya melihat beberapa tempat peristirahatan bagi wisatawan yang ingin berwisata menginap di wilayah ini. Saya mencatat ada tiga tempat menginap disana.

Wah saya baru tahu kalau ada area wisata tempat menginap disini. Ada glamping, villa dan ada juga yang berbentuk kabin. Saya sempat masuk juga dan bertanya-tanya ke salah satu tempat menginap yang ada disana tentang bagaimana cara menginap disana.
Setelah melewati jalanan yang lebar, akhirnya saya menapaki jalan menurun yang akan menuju gerbang utama ticketing menuju curug.
Perjalanan dari Gerbang Utama BTNGP Menuju Curug Sawer
Setelah menyusuri jalan menurun tersebut akhirnya sampai juga ke gerbang utama Balai Taman Nasional Gede Pangrango (BTNGP) sekaligus tempat ticketing. Disini ada dua petugas yang berjaga. Saya membayar tiga puluh dua ribu per orang jadi karena saya berdua suami jadi total semua adalah enam puluh empat ribu rupiah. Oh iyaa, siapkan uang cash yaa karena mereka hanya menerima cash saja tidak bisa cara lain.
Menurut penuturan petugas penjaga, tiket yang saya beli ini bisa digunakan untuk masuk ke area curug dan danau. Akhirnya setelah tiket ada di tangan segera saja saya dan suami berjalan memasuki jalan menuju curug.


Eh ternyata surprise banget deh, setelah melewati jembatan saya langsung berada di lapangan depan warung-warung yang banyak itu. Saya ingat ini kan jalan menuju naik ke keranjang sultan. Ini juga berarti yaa gak begitu jauh dong dari curug. Eh benar sajam paling jalan dua menit dari jembatan langsung deh sampe ke Curug Sawer.


Saya tertawa sendiri, ternyata dekat banget yaa dari gerbang tiketing ke Curug Sawer. Baru jalan beberapa meter eh udah sampe aja. Wkwkwk…ini sih trekking tercepat yang pernah saya lalui. Jadi kalau teman-teman ingin ke Curug Sawer dan nggak mau cape-cape jalan jauh plus tiket masuk nya lebih murah lewat sini aja yaa.
Menikmati Curug Sawer
Curug Sawer tuh tidak terlalu tinggi yaa, jauh deh tingginya kalau dibandingkan dengan curug Cibeureum. Tapi meskipun tidak tinggi tapi debit airnya tuh lebih kuat dan ada larangan berenang di bawah air terjun. Jadi orang-orang hanya berfoto-foto saja di atas jembatan yang ada tepat di samping air terjun.
Debit air terjun yang deras karena tidak terlalu tinggi sehingga membuat kedalaman lokasi air terjun ini lebih dari sepuluh meter. Jadi bahaya yaa kalau berenang di bawah air terjun, pengunjung bisa tenggelam nanti. Curug sawer tuh indah banget di sekelilingnya banyak batu-batu yang terpercik air terjun yang deras.



Sekitar curug ada banyak pedagang dan ada beberapa orang memainkan alat musik sunda dengan kode barcode Qris tersaji di depannya. Ada juga beberapa plang yang berisikan berbagai informasi termasuk plang besar bertuliskan Curug Sawer.
Sebenarnya saya tuh ingin banget lanjut ke Danau Situgunung tapi ternyata jalan kakinya lumayan kalau pulang pergi Curug – Danau memakan waktu hampir dua jam dan hari sudah siang. Ah intinya mah kesiangan deh wkwkwkwk. Gimana gak kesiangan orang dari rumahnya aja baru jalan jam delapan. Harusnya saya sudah berangkat dari jam setengah enam pagi.
Oke deh, pekan depan harus diulang nih trekkingnya. Berangkat pagi banget langsung menuju Danau Situ Gunung dan jalan kaki menuju Curug Sawer pulang pergi. Jadi jalur yang saya dan suami pilih itu tidak melewati jembatan Suspension Bridge yang viral itu yaa. Tapi melewati pintu masuk Taman Nasional Gede Pangrango.
Perjalanan Pulang Penuh Hectic
Setelah puas menikmati air terjun Curug Sawer, saya dan suami segera kembali ke parkiran motor. Rencananya sih, setelah masuk kembali ke jalan utama mau naik terus ke arah atas. Soalnya kan penasaran kalau naik terus ke arah atas itu nanti menuju kemana gitu.
Tapi ternyata nasib berkata lain, rantai motor bermasalah sodara-sodara wkwkwk. Paniklah saya dan suami. Tapi alhamdulillah Allah mendatangkan orang baik, Beliau mengantar kami ke bengkel yang ada di Jalan kadudampit sebelah bawah.
Untungnya jalan menurun jadi motor bisa melaju dan saat melewati jalan menanjak amang yang membantu saya dan suami dia menjumper dengan motornya. Aduuuh baiik banget deh beliau mau bantuin kita.


Akhirnya, sampai juga di bengkel. Beliau pun pamitan setelah memastikan kami sudah dalam kondisi aman dan motor sedang ditangani bengkel. Setelah petugas bengkel mengganti rantai dengan yang baru, motor bisa normal kembali. Alhamdulillah saya bisa melanjutkan perjalanan dengan aman dan nyaman. Anggaplah ini adalah bumbu perjalanan kami pekan ini. Seru juga sih jadi ada cerita tambahan.
Terima kasih ya teman-teman sudah membaca artikel saya ini. Sampai jumpa di cerita berikutnya.😍😍
























Sepanjang baca aku tuh penasaran sama harga tiket masuknya dan untungnya nggak berlapis-lapis/berkali-kali kayak kebanyakan tempat wisata ya mbak 🙂 walau ironis, mereka hanya bisa pembayaran dengan cara tunai sementara pedagang di sana udah menyediakan QRIS haha. Kalah gercep nih pengelolanya, atau mungkin juga mereka sengaja gak mau pake hehe.
Curugnya cakeeeep. Ya ampun kalau aku ke sana kayaknya bakalan ngebasahi insang alias mau nyebur haha. Di Palembang untuk main ke curug/air terjun kudu jalan dulu seenggaknya 3 jam >.< lumayan jauh.
Mba Heniii, seruuu pol!
Cerita pulangnya bikin dag dig dug dhuaarr ya Mba
Rantai motor copot tu apa karena rutenya yang terlalu challenging?
atau karena kurang dikasi oli kali ya?
Alhamdulillah, Allah pertemukan dengan orang baik ya Mbaaa
kebayang hepi dan leganyaaa, rezeki dari arah yg tidak disangka2 loh ituuu
jadi ini tuh motor yang dibawa anak saya, maklum laah mahasiswa sibuk kuliah gak sempet megang motornya,,,kurang oli ceritanya mbaak jadi pada kaku,,,akhirnya ya gitu deh hehehe.
Waaah aku baru tahu ada rute lain 😍. Udah beberapa kali ke Curug sawer, tapi ya dari Pintu utama nya yg jauh itu mba 😄. Dan memang lebih mahal yaaa.
Tp agak gimana pas baca wajib cash . Okelaah, setidaknya kalau kesana lagi harus inget bawa cash. Krn pas di atas yg jalur utama seingetku aku selalu bayar qris.
Enak juga kalau sesekali bisa lewat jalur yg lebih pendek 😄
Alhamdulillah ketemu yg baik pas rantai motor rusak yaaa.
Iya kak Fanny,,,,saya juga agak panik wkwkwk,,,maklum saya nih masuk aliran jarang membawa uang cash banyak-banyak hehehe,,,palingan paling maksimal di dompet tuh 200 sampai 300 aja deh. Kalau misal gak ada uang cash kita gak jadi masuk tuh. Iyaa alhamdulillah banget ketemu bapak yang baik hati ini,,,,rejeki luar biasa kak Faan
Aku ngebayangin kalau ke Curug Sawernya bareng rombongan. Semacam touring gitu. Pasti lebih seru.
Rata-rata kalau air terjun begitu emang nggak boleh mandi di dekat situ ya. Nggak perduli setinggi apa tetap saja mengkhawatirkan ya, Kak.
jelas seruuu banget ini kalau touring mbak Yuun,,,,ramean berangkatnya,,,tapi memang disini debit air trjunnya tuh deras jadi pasti dalam di sekitar curugnya, makanya ada tulisan dilarang mandi dan berenang di curug
Begitulah risiko bepergian menggunakan kendaraan roda dua. Saya dan suami pun sering mengalami seperti
Maklum punyanya ya cuma motor butut. Haha…
Tapi Alhamdulillah waktu ke Situ Gunung pakai motor gak ada kejadian mogok atau ban kempes. Lancar
Cuma kami ya pakai jalan biasa, gak ke jalan pintas seperti ini
Btw waktu kami ke Situ Gunung, suami malah mogok di tukang Kedinding itu. Maksudnya ia mampir dan belajar memainkan alat musik itu dulu. Anggap aja istirahat juga. Ada kali setengah jam waktu yg dia pakai buat belajar alat musik yang terbuat dari bambu itu…
naah seru ya teh ke Situ Gunung,,,ada banyak yang bisa dilihat dan dicoba selain menengok curug dan danau nya
Lewat jalur Cinumpang Kadudampit emang pilihan pas buat yang pengin nikmatin trekking asri tanpa terlalu ramai pengunjung. Udara segar khas Gunung Gede Pangrango plus pemandangan hijau sepanjang perjalanan benar-benar bikin rileks.
Akses jalan setapaknya juga memberikan sensasi petualangan yang beda dibanding jalur utama. Pas sampai di Curug Sawer, rasa capek langsung terbayar tuntas sama gemericik air dan hembusan angin sejuknya. Sukabumi memang tak pernah gagal menyajikan pemandangan indah.
yap betul banget dan bikin betah lama lama disini
Wah seru sekali baca cerita ini
Ini namanya couple time ya mbak
Menikmati waktu berdua
Sarapan yang diakhiri dengan tracking tipis-tipis
hihihi yaa begitulah mbaak
Mbak Hen, nama jembatannya mengingatkanku pada seorang tokoh intelektual, budayawan, dan seniman. Apa ada hubungannya? Trus aku penasaran kenapa curugnya dinamakan Sawer? Apakah curugnya berjoget jika disawer? wkwk. Jatuhan airnya ga tinggi-tinggi amat, tapi kedalaman kolamnya sampe 10 meteran ya. Dalem juga itu. Biasanya kalau pendek justru ga terlalu dalam. Ada aja ujiannya ya, rantai motor bermasalah. Jadi ga lanjut sampe atas kah?
Naah iya lagi mbak,,,,Emha Ainun Nadjib yaa,,,mirip namanya. Sepertinya hanya kebetulan saja. Dinamakan Curug Sawer kalau menurut cerita di masyarakat dulu di daerah sana asering mengadakan acara hiburan dan mengadakan acara saweran.
Waah kalau dalam begitu curutnya, berarti yang aman yang bisa berenang sih ya, kalau yang abu2 berenangnya mah di pinggir aja dah menikmati kesegaran airnya hehe.
Unik juga namanya curug Sawer. Apakah mungkin dulunya ada pernah melakukan saweran di sana?
Indah banget Curug sawer 🤩 resep ngeliatnya. View-nya pun oke pisan. Ternyata perjalanan trekking kali ini terbilang cepet hehehe. Gapapa, habis makan bubur lanjut. Untung pake motor, jadi lebih praktis.
Bakalan betah di di Curug nya menikmati udara sejuk dan suara gemericik air.
Duh, ada masalah sama motor. Untung ada yang bantu dan ketemu sama bengkel. Alhamdulillah pas ditangani semua kembali aman ya. Begitulah liburan selalu ada cerita menarik yang menyertai.
Betah banget mbak Lala,,,,,lihat air terjun super pendek hehe
Masya Allah pemandangannya bvenar-benar memanjakan mata. Jadi membayangkan betapa sejuknya suasana di sekitar air terjun. Bisa dijadikan salah satu pilihan ini, kalau mau berwisata di tempat yang dingin.
Jalur via Cinumpang ini justru bikin penasaran, apalagi perjalanan menuju curug biasanya punya cerita sendiri: jalan yang bikin ngos-ngosan, medan yang kadang nggak sesuai ekspektasi, sampai momen ketika suara air mulai terdengar.
Buat aku tuh mbak, bagian seperti itu malah penting karena bisa jadi gambaran buat orang yang benar-benar mau datang, bukan cuma pembaca yang cari foto bagus.
Curug Sawer sendiri memang kelihatannya punya daya tarik tersendiri, tapi setelah baca tulisan ini aku jadi merasa perjalanan menuju ke sana adalah bagian dari pengalaman yang nggak boleh dilewatkan.
Kadang destinasi yang paling berkesan memang bukan yang paling gampang dicapai. Justru perjuangan menuju lokasinya yang bikin cerita pulangnya lebih panjang. Mantap mbak Heni.
Begitulah Mas Didik,,,,,menikmati perjalanan di setiap jengkalnya,,,adalah sebuah momen mengasyikkan
Wah menarik juga nih perjalanan ke Curug Sawer yang punya daya tarik tersendiri karena ternyata walaupun perjalanan alternatif banyak yang bisa kita dapatkan dalam perjalanan itu sehingga membuat perjalanan jadi makin Menarik kan dan lebih banyak ceritanya
Iyas MAs Aip,,,betul banget
Iri banget ih, ke curug motoran, kalau aku di sini kudu naik KRLan dulu mbak ke Bogor hehe 😀
Jembatan emha, namanya unik, aku melihat fotonya agak ngeri2 sedap, tapi insyaAllah terlihat kokoh ya mbaj.
Ini keknya jembatan legend ya sebab jadi patokan kalau curugnya udah dekat hehe 😀
Hihihi lucuk juga mbak ternyata lokasi curugnya deket sama gerbangnya yaa. Ini sih cocok lha buat emang yang mau niat santai aja pokoknya lihat curug.
Owh tapi nggak boleh berenang karena airnya bener2 kek grujugan gitu yaa, apa sih Bahasa Indo-nya ya haha 😀
Sempat ada drama motor error, untungnya kita di Indonesia, banyak orang yang baik yang mau bantuin yaa 😀
Jadi tambahan cerita deh kejadian mogoknya hehe 😀
iyaa sangaaat dekaat sampai gak kerasa baru aja beberapa langkah jalan eeh dah sampe aja wkwkwk
seru banget jalan-jalan paginya, mbak. dan pemandangan curugnya juga cakep banget. Kalau di sini susah banget nyari tempat wisata begini adanya cuma sungai doang dan itu pun lumayan jauh dari banjarmasin
Curugnya keliatan bersih dan segar. Bisa celup kaki dan main air di sana. Alhamdulillah kalau trekking bentar aja ya jadi gak capek. Lalu harga ticket juga terjangkau.
Nah pas pulang ada drama juga tapi alhamdulillah banyak orang baik yang menolong ya Kak
Kayanya daku beberapa kali baca tentang Curug ini tapi baru tau kalau ada rute lain yang menarik. Pergi ke Curug tuh menurut saya selalu buat sensasi healing yang beda gitu deh.
Wah enak sekali kalau lewat jalur yang ini mbak. Curugnya dekat dari gerbang. Jadi nggak perlu jalan jauh sudah bisa menikmati keindahannya hehehehe…
Alahmdulillah ya pas rantai rusak bertemu orang baik yang mau menolong. Memang negeri kita walaupun rada carut marut masih banyak orang baik di dalamnya.
Iyaa baik bangeet,,,ya Allah tertolong banget ada bapak nii…
wah… ngeri-ngeri sedap juga perjalanannya, tapi asik sih karena setiap sudut perjalanan selalu menawarkan panorama yang sangat menkjubkan. tapi memang harus banyak persiapan sih, disamping finansial juga fisik yang kuat karena perjalannya tidak singkat. he he ini juga berdasar pengalaman