Setiap menghadapi weekend saya biasa berbincang dengan suami, kira-kira kita mau kemana yaa. Maklum di rumah cuma berdua rasanya bosan deh kalau di rumah terus. Jadilah kita suka mencari-cari tempat buat menghabiskan waktu libur yang hanya sehari ini.
Jujur deh, sejak teh Ula mengajak saya ke Ciwangun Indah Camp tempo hari saya jadi kepengen trekking lagi. Abisannya seru banget meskipun nafas ngos ngosan capee hehehe, tapi saya senang bisa menikmati indahnya alam dan jauh dari keramaian.
Menanggapi keinginan saya, akhirnya suami mengajak trekking ke Curug Cibeureum Selabintana. Tapi jalan masuknya dari jalur Pondok Halimun, bukan dari Selabintana. Jadi jalur masuk ke Curug Cibeureum itu ada dua yaa, satu dari jalur Selabintana dan dua dari jalur Pondok Halimun. Saya lebih suka lewat Pondok Halimun karena jalannya lebih bersahabat.
Table of Contents
Rute ke Curug Cibeureum
Saya dan suami mengambil rute Pondok Halimun untuk sampai ke tujuan. Curug Cibeureum masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Untuk menuju ke Curug, saya harus sampai terlebih dahulu ke Pondok Halimun.
Pondok Halimun adalah daerah wisata berupa camping ground dan perkebunan teh. Pondok Halimun selain menjadi titik start trekking ke curug Halimun juga menjadi titik pendakian ke Gunung Gede Pangrango via Selabintana.
Saya berangkat dari Cibadak mengendarai motor bersama suami. Jadi dari Cibadak langsung saja menuju arah Selabintana via jalan Lingkar Selatan (Jalur). Setelah berada di Jalan Selabintana, nanti akan ada pertigaan belok ke kiri ke arah Perbawati. Nanti di pertigaan tersebut ada plang dengan tulisan Pondok Halimun.
Naah, dari belokan tersebut terus saja ikuti jalan utama sejauh kurang lebih empat kilometer. Sepanjang jalan menyusuri rute ini saya disuguhi pemandangan indah dan melewati perkebunan teh. Perkebunan teh ini masuk ke wilayah PTPN VIII. Ada beberapa titik jalan yang kondisinya sudah rusak dan berlubang. Tapi tidak terlalu jauh hanya beberapa kilo saja menjelang akhir sampai ke Pondok Halimun.

Nanti akan melewati gerbang pertama berwarna biru yang bertuliskan Pondok Halimun, tidak begitu jauh dari sana ada gerbang kedua yang menandakan saya masuk ke area wisata Pondok Halimun, gerbangnya berwarna kuning. Kedua gerbang ini saya lupa foto malah keasyikan ambil video.
Setelah sampai ke Pondok Halimun, jangan berhenti parkir di depan tempat wisata yang banyak warung-warung itu tapi lanjut saja terus menuju Resor PTN Selabintana TNGGP. Dari halaman parkiran lanjut masuk ke dalam dan saya melalui tempat Camping Ground Paseban tempat saya camping di awal tahun lalu. Naah setelah masuk ke dalam sekitar 3 menit nanti akan sampai ke lokasi yang dituju. Saya melihat plang besar bertuliskan Bumi Perkemahan Baru Halimun dan saya parkir motor disini saja.
Berapa Kita Membayar Tiket?
Saat akan menuju Pondok Halimun, saya melewati pos retribusi masuk ke kawasan wisata. Disini saya membayar karcis retribusi dua belas ribu per orang. Jadi total saya membayar dua puluh empat ribu untuk berdua.
Petugas tiket mengatakan bahwa, tiket saya ini jangan hilang karena bisa digunakan untuk masuk ke spot wisata milik Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi.



Saat sampai di Bumi Perkemahan Baru Halimun, saya kembali membayar tiket retribusi sebesar tujuh belas ribu. Tiket ini untuk apa? Jadi tiket ini merupakan biaya masuk menuju Trekking Curug Cibeureum. Jadi, saya membayar tiket dua kali yaa. Total tiket yang saya bayar adalah lima puluh delapan ribu.
Apa yang Saya Temui Sepanjang Perjalanan?
Setelah membayar tiket masuk menuju Curug Cibeureum, suami segera memarkirkan motor di parkiran yang sudah tersedia. Dekat tempat parkir tersebut ada peta rute menuju Curug Cibeureum. Waah pas saya melihat peta tersebut lumayan jauh juga yaa,,,,wkwkwkwk. Ah semoga kuat,,,semoga kuat,,,

Ternyata perjalanan ke Curug Cibeureum sangat menyenangkan meskipun saya akui sangat melelahkan dan capee beneer hehehe. Lalu apa saja yang saya temui sepanjang perjalanan menuju ke Curug Cibeureum? Yuuk pantau terus cerita saya yaa.
Jangan Takut Nyasar
Jalur trekking menuju Curug Cibeureum banyak sekali penanda arah jadi saya tidak khawatir tersesat atau nyasar. Tanda yang paling besar saya temui adalah dua buah plang berwarna hijau yang menunjukkan arah percabangan kalau belok kiri adalah menuju jalur pendakian Gunung Gede Pangrango dan tanda satu lagi adalah petunjuk jalan menuju Curug Cibeureum.
Begitu juga di tempat lainnya, ada plang kecil dengan tanda panah berwarna merah dengan tulisan Curug Cibeureum. Hanya sayang kalau menurut saya perpaduan warna antara hijau dan hitam jadi tulisannya tidak begitu jelas terlihat. Enaknya sih warna tulisan Curug Cibeureumnya tuh putih gitu, jadi kelihatan dari jauh juga.


Jalanan Berbatu
Sepanjang perjalanan dari sejak mulai memasuki jalur trekking hingga menuju curug jalannya itu berbatu makadam. Jadi walaupun hujan tidak akan becek jalannya karena berbatu. Di awal-awal jalur trekking, malah ada terpasang batu alam persegi empat berukuran kecil di sepanjang sisi kiri jalur trek. Saya pikir hebat banget ini perhutani , effort bener yaa memasang batu-batu alam tersebut.
Selanjutnya , jalanan makin sempit terkadang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Kemudian melebar lagi. Tapi selebar lebarnya jalan tetap hanya bisa dilalui oleh dua orang berpapasan. Namun saat sudah melewati pertigaan jalan yang mempertemukan jalur dari Pondok Halimun dan jalur dari Selabintana, jalanan menuju ke arah Curug lebih lebar dan bisa dilewati oleh empat orang sekaligus. Tapi beberapa ratus meter di rute terakhir jalan berbatu kembali menyempit.
Bahkan di rute paling akhir benar benar hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Jadi kalau ada yang dari atas mau naik maka yang dari bawah harus nunggu dulu, atau sebaliknya. Jalanan tetap berbatu di sepanjang jalur menuju curug Cibeureum.
Teduh dan Rindang
Kalau boleh saya membandingkan rute trekking antara CIC dan Curug Cibeureum ini jauh berbeda. Kalau di CIC itu sepanjang rute relatif terbuka dan pepohonan meskipun ada yang rimbun tapi karena jalannya lebar sehingga masih bisa terasa panas.
Perjalanan menuju curug menghadirkan suasana yang sejuk dan menenangkan. Padahal cuaca saat itu cerah puol dan pasti panaas, tapi sepanjang perjalanan sejauh 3,5 km menuju Curug saya tidak merasakan kepanasan sama sekali.
Saya melalui jalan yang dipenuhi pepohonan rindang di kedua sisinya. SAking rimbunnya dedaunan di sisi kanan dan kiri sampai membentuk semacam kanopi alami yang menaungi sebagian besar jalan. Sehingga sinar matahari hanya sesekali menembus melalui celah-celah daun.


Saya bisa menghirup udara sepuasnya dan terasa lebih segar, sementara suasana teduh membuat perjalanan menuju curug terasa nyaman. Saya sebenernya banyak ngos ngosannya lho akibat kecapean dan medan yang dilalui cukup nanjak mudun gitu tapi karena rimbun dan teduh serta segar jadi cepat pulih deh capeknya.
Jalan berbatu yang sempit justru menjadi bagian dari daya tarik perjalanan, karena menghadirkan pengalaman menyusuri kawasan alami yang masih terjaga. Keteduhan pepohonan, udara yang sejuk, serta pemandangan hijau di sepanjang perjalanan menjadikan akses menuju curug tidak sekadar sebagai jalur penghubung, tetapi juga bagian dari pengalaman menikmati keindahan alam. Betah saya trekking ke Curug Cibeureum meski capeenya masya Allah tapi saya puaas buangeeets 😃😃😃
Air Jadi Sedingin Es
Saya tuh kan dari rumah membawa bekal air di tumbler. Airnya dengan suhu ruang biasa alias gak dingin dan gak panas juga. Eh tau gak setelah diajak trekking ke jalur curug ini airnya jadi dingiiin mak nyees deh. Enak banget segeer serasa punya kulkas alami. Airnya jadi dingin sedingin es.
Saya lihat ke HP suhu di luar itu sekitar 18 derajat celcius dan ini posisi udah siang yaa. Kebayang gak berapa derajat celcius tuh kalau pas lagi malam hari. . Jadi pantes aja sih jadi dingin. Tapi masih kalah jauh sih dengan dinginnya suhu saat saya kemping di Rancaupas.

Bangunan Bagus Tapi Terbengkalai
Sepanjang menyusuri jalur trek saya melihat bangunan milik Perhutani yang terbengkalai. Padahal saya lihat bangunannya tuh bagus lho baik dari sisi kualitas maupun desainnya. Kalau kata suami sih bahannya gak ece-ece alias bahan pilihan dan pengerjaannya juga rapi.
Bangunannya bermacam-macam ada toilet, aula dan saung-saung gazebo gitu. Sayang aja sih beneran deh kalau ada perawatan secara berkala pasti akan jauh lebih bermanfaat.

Banyak Pohon Tumbang
Seperjalanan mulai dari awal jalur trekking hingga sampai ke Curug ada beberapa titik di jalan yang terhalang pohon tumbang. Saya hitung ada lebih dari lima deh pohon yang tumbang. Besar pohonnya beragam ada yang kecil hingga agak besar dan menghalangi seluruh jalanan trekking.
Pihak pengelola Curug agaknya memang tidak berniat untuk menyingkirkan batang pohon yang menghalangi tersebut. Kenapa? Karena saya lihat batang pohon itu dibiarkan begitu saja menghalangi jalan. Tapi memangnya juga tidak begitu mengganggu sih, masih bisa dilewati dengan melompatinya. Batang-batang pohon yang tumbang itu tidak terlalu besar ukurannya.
Hanya saya sih membayangkannya tuh, gimana coba kalau pas pohon itu tumbang pas kebetulan ada orang lewat. Gimana kalau menimpa pejalan kaki yang sedang trekking yaa. Ah udah ah, nggak mau membayangkan yang aneh-aneh.

Jalan Menanjak dan Menurun
Selayaknya jalur trekking ke curug pada umumnya pasti banyak tanjakannya. Jalur ke curug itu latihan tipis-tipis super tipis hehehe buat naik gunung. Sepanjang jalan saat di perjalanan suami beberapa kali bertanya dengan nada lembut hahaha, “ Gimana mau lanjut atau kembali pulang aja?” Saat melihat saya seringkali berhenti dengan nafas ngos ngosan menahan setelah melalui tanjakan yang panjang.
Oh iya catatan aja deh ini sih buat yang mau trekking ke Curug, jadi sebaiknya gunakan kaos kaki yang terbuat dari katun. Kenapa? Karena dijamin deh kalau enggak pake kaos kaki dari katun nanti kaki gak mau diem. Kek saya kemarin, pas di jalan yang menurun tajam, ujung kaki sampe sakit-sakit karena kaki yang terdorong ke depan karena kaos kaki licin.
Kondisi ini berbeda dengan saat trekking ke Ciwangun karena saat itu saya mengenakan sandal gunung. Pas mantap deh, pakem bener menapak di tanah berbatu, tanjakan dan turunan.
Perbandingan jalan menanjak, menurun dan datar adalah 70:30:20. Gitu deh kira-kira,,,jadi emang lebih banyak nanjaknya.

Ada Jalur Khusus Menyeberang Sungai
Pijak pengelola jalur trekking di Curug Cibeureum memang benar-benar memudahkan pengunjung untuk bisa melintasi sungai dengan nyaman. Jadi di jalur penyeberangan ada tembok-tembok kotak panjang yang dibanggun untuk dilintasi saat menyeberang. Sehingga pengunjung tidak harus menginjak permukaan sungai dan menyebabkan kakinya basah deh nanti.
Terus juga di sisi penyeberangannya ada tali terbentang yang berfungsi agar penyeberang sungai bisa berpegangan padanya. Jadi aman kaan gak bakalan jatuh karena ada pegangan.
Ada juga jembatan di beberapa titik yang sangat aman untuk pengunjung lalui. Termasuk jembatan terakhir sebelum naik trekking terakhir sebelum sampai ke curug.

Bertemu Persimpangan Jalan dua Jalur
Jalan persimpangan ini sudah saya singgung sedikit di bagian atas cerita saya ini. Jadi seperti sudah saya bilang bahwa jalur menuju Curug Cibeureum Selabintana ini ada dua jalan, yaitu jalur Pondok Halimun dan Jalur Selabintana. Naah, di atas itu ada jalur pertemuan dua rute ini.
Petugas pengelola Curug nampak berjaga di jalur pertemuan dua rute ini. Mereka mencegat pengunjung dari jalur Selabintana karena di depan pas masuk jalur trekking tidak ada loket karcis. Sementara jika masuk dari jalur Pondok Halimun pengunjung membayar tiket resmi.
Di jalur pertemuan itu saya kembali bertemu dengan petugas yang menarik tarif pada saya saat di gerbang masuk tadi. Kalau menurut beliau nih, mereka berjaga pada saat weekend atau libur panjang karena di hari tersebut pengunjung ke Curug banyak. Kalau hari kerja jarang yang trekking mungkin karena pada kerja atau sekolah kali yaa…

Kondisi Track Terakhir
Naah, track terakhir sebelum sampai ke curug adalah jalur yang paling menantang banget. Jadi yaa, jalurnya itu pertama jelas sangat menanjak tajam, kedua tanjakannya itu berupa undakan yang tinggi , ketiga di jalurnya ini banyak batu-batu besar.
Belum lagi jalurnya ini permukaannya basah oleh air yang dibawa pengunjung curug. Koq bisa? Iya bisa dong karena pengunjung yang sudah menikmati pesona curug mereka banyak yang nyebur atau basah basahan, jadi pas pulang bajunya basah kaan. Gitu ceritanya, jadi aja jalurnya basah deh.
Bener-bener deh,,,saya keknya gak bisa naik kalau gak ditarik-tarik sama pak Suami hahaha. Nuhuun pisaan Pak Suami,,,you are amazing selalu jadi tempat saya berpegangan sepanjang perjalanan. Fotonya udah saya simpan di atas yaa
Eh Ada Warung di Curug
Setelah berjuang selama tiga setengah jam mendaki gunung, lewati lembah berkelana wkwkwk,,,akhirnya sampai juga di tujuan. Daaan,,,tahu gak apa yang saya saksikan di atas ini? Yuups,,,warung guys waruuung mana lengkap lagi barang jualannya ada bala-bala panas, kopi, mie, kue-kue cemilan, sampai matcha dan cappucino.
Emang enak sih,,,abis cape nanjak pas di atas jajan bala-bala deh. Enaak sungguh nikmat Tapi, saya masih bisa tahanin , soalnya kata suami nanti aja kalau udah turun ke curug yaa jajannya. Sekarang kita turun dulu ke Curug Cibeureum. Jadi dari warung ini saya tinggal menuruni tangga sebentar udah deh sampai ke Curug Cibeureum.

Akhirnya Sampai di Curug
Akhirnya ya Allah perjalanan panjang saya sampai juga di Curug. Setelah sepanjang perjalanan berkali-kali saya bertanya ke pengunjung yang kebetulan berpapasan. Saya bertanya, “Teh atau pa bu,,ini ke Curug masih jauh gak? Dan jawabannya oh masih jauh, oh masih setengah perjalanan lagi. Dan jawaban melegakan adalah saat akhirnya sampai pada jawaban “gak lama teh, palingan sepuluh menit lagi.”
Masya Allah Curug Cibeureum itu indah sekali. Dengan tinggi enam puluh meter dan dua aliran air terjun d paling atasnya. Melihat air meluncur dari atas ke bawah kemudian memercik pas di bawah wiiih bagus banget deeh.



Tapi kalau kata suami sih, sekarang debit air terjun sudah jauh berkurang. Dulu itu, di bawah air terjun yang sekarang dijadikan tempat orang pada kumpul-kumpul itu tuh dulunya terendam air juga. Seluruh lapisan tebing itu tertutup oleh air terjun. Sekarang hanya setengahnya saja.
Kalau perkiraan saya sih memang karena udah lama tidak ada hujan yaa, jadi pantas saja debit air menurun. Tapii, meskipun begitu air terjun Curug Cibeureum tetap masya Allah indah sekali. Ditambah lagi air di sungai bawah air terjun tuh beniiing bangeet alias bersih tiada tanding. Saya lihat juga tidak banyak sampah, baguslah berarti pengunjung menjaga kebersihan.
Pengalaman Unik Sepanjang Perjalanan
Ada beberapa pengalaman menarik saat saya trekking ke Curug Cibeureum ini. Pertama, saya bertemu dengan seorang anak kecil dengan kucing kesayangannya yang bernama Ilo. Anak ini niat banget membawa kucing ke curug, saya melihat di tas gendongnya ada makanan kucing yang dimasukkan ke dalam botol air mineral. Kucingnya dikasih tali kekang biar bisa dituntun. Beberapa kali saya melihatnya berhenti untuk istirahat. Seru juga yaa trekking membawa hewan kesayangan.

Kedua, saya dan suami lumayan lama lho diikuti oleh lebah. Meskipun sudah diusir lebah itu tetap muter-muter di sekitar tubuh saya dan suami. Yaa sebenarnya nggak menggigit sih cuma jadinya gak nyaman aja. Sepanjang jalan ngiung-ngiung tuh lebah muterin saya.
Naah setelah di atas, kita cerita tuh ke amang warung sambil kita istirahat. Terus si amang warungnya bertanya, Ibu dan bapak pake parfum ya? Lalu kujawab aja iyaaa. Oh ternyata , lebah itu tertarik pada wangi parfum apalagi kalau parfumnya wangi bunga. Oh iya sih, parfum saya kan Guci Flora yang saya beli di WIN Parfumery kan itu wanginya wangi bunga.
Ketiga, saya bertemu dengan banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah usia lansia dan pra lansia. Mereka sudah tidak muda lagi, yaa sama seperti saya usia empat puluh atau lima puluh tahun ke atas. Bahkan ada juga lho saya berpapasan dengan sepasang suami istri yang bener-bener udah sepuh.
Kata suaminya, sang istri sengaja diajak trekking kesini karena sedang terapi kakinya yang sakit. Tapi memang tidak sampai Curug sih, melainkan hanya sampai pertigaan pas pertemuan jalur trekking yang saya ceritakan di bagian atas cerita saya.
Penutup
Alhamdulillah , perjalanan trekking pekan ini adalah salah satu trekking paling menyenangkan bagi saya. Selain jalurnya nyaman dan tidak panas karena pohonnya rindang banget kek di hutan antah berantah. Pemandangan di Curugnya juga indah bangeet. Rasa lelah dan cape langsung buyar terpuaskan oleh indahnya Curug Cibeureum. Perjalanan pulang lebih cepat deh karena lebih banyak jalanan menurunnya jadi tidak banyak berhentinya.
























Seru ya, jadi pengen ngajak anak trekking, tp ragu apa saya masih kuat mengingat usia sudah menjelang “jelita”. Padahal ini rekomend banget, kebayang ya 18°, ac di rumah 25° sudah dingin banget buat aku.
Mbaaaa, dirimu kerennn sekaliii
kebayang kalo aku pasti dah ngos-ngosaaaannn, napas senin kemis. hahahah
rutenya sungguh menakjubkan ya.
pastinya capek, hepi, healing, semua nyampurr jadi satuuuu
sama, mbak. aku dari dulu nggak doyan olahraga kan dan kalau jalan kaki itu lambat banget. dan akibatnya di usia 40 kayak sekarang aku jadi nyeri lutut. Pr banget jadinya nih aku buat menguatkan otot kaki soalnya masih ada impian umroh sama keluarga yang belum terpenuhi
Ada yg bilang kalau udh sekali trekking akan kecanduan pengen trekking tempat lainnya 😄.
Aku beberapa kali trekking ke Curug, kayak Curug Malela, Curug putri di Anyer, tapi kayak nya makin kesini udh ga mau 🤣🤣. Tp melihat Curug nya masih sukaaaaaa, trekking nya itu yg males mba 😅.
Cakeeep ya Curug Cibeureum… Worth it lah capek menuju kesana ya mbak . Apalagi Krn banyak pohon dan ga berasa panas. Ini penting , jadi ga gerah. Dan aku suka kalau rute trekking , pergi nya mendaki, pulangnya menurun. Enak.
Pas di Curug Malela, perginya menurun, pulangnya aku bengek, Krn mendaki 🤣🤣🤣.
Duh, baca ini saya malah kepikiran. Gimana ya nanti kalau anak sudah besar, dan punya kehidupannya sendiri. Secara, sekarang saya masih di fase repot. Anak masih kecil, jadi kalo kemana-mana pastilah diajak. hihihi
Jujur tapi kangen banget sama yang namanya trekking-trekkingan. Terakhir nyobain itu pas masih pacaran. udah nikah, ada anak.. makin susah dah wkwkwk. Apalagi paling deket kan kalo mau trekking dari Bekasi, paling ya ke Sentul atau Puncak Bogor. Dua-duanya punya jarak yang lumayan dan butuh waktu.
kapan2 kalo mau trekking, hayu bareng mbak.
ALhamdulillah capai nya terbayar tunai ya mbaa setelah sampai curug bisa liat keindahan air terjun yang ternyata lumayan tinggi juga yaaa…
Dan jalur trekking nya bener2 enak gak becek tanah..penataan jalan buat trekkingnya perlu diacungi jempol sie ya karena memudahkan para pendaki tapi pr nya bangunan2 yang terbengakalai sayang banget gak digunakan, apalagi ada fasilitas toilet ini sebenarnya bermanfaat banget kalo bisa dikembalikan ke fungsi semulanya….
Seru banget ya mbak. Jadi pengen trekking juga. Kalau urusan jelajah alam, mesmi ngos-ngosan dan badan cape, semua bisa terobati saat menyaksikan keindahan alam. Semoga sehat selalu jadi bisa trekking keliling dunia ya mbak
wah berasa banget ini perjuangan menuju curugnya, mbak. pastinya untuk bisa melakukan trekking ini kita harus menyiapkan fisik dan stamina yaa. salut deh sama mbak Heni yang kuat banget trekking semoga nanti aku juga bisa begitu nih soalnya pengen banget juga ngerasain trekking sama anak-anak
Padahal bangunannya nampak bagus-bagus ya, Ka. aku jadi berpikir. ITU dulunya bikin bangunan buat apaan dah kalau nggak dirawat begitu?
Okelah. Mungkin buat fasilitas bagi yang trekking. Tapi, mbok yo dirawat gitu lho.
Melancong ke alam itu lebih fresh ya, apalagi ada airnya seperti air terjun atau pantai ya. Bukan hanya merefresh mata juga jiwa yang sering terkena rutinitas.
Apalagi tiketnya sangat terjangkau ya, jadi gak kerasa ngeluarin duit ya teh. 12 ribu termasuk murah banget ini mah.
Huaaahhh, aku yang baca ini kebayang ngos-ngosannya mbak. Hueheheh… Tapi kalau trecking gini suka pengen balik lagi sih, apalagi kan teduh dan rindang ya. Jadi adem kepala sama pikiran ini… 😀
Menariknya di ujung curug malah nemu warung, kaya hidden gems banget. Mana udah capek terus lapar dan ada tombo-nya. Capeknya kebayar double nggak sihhhhh.. 😀
Aku treking pertama dan terakhir tahun 2015-an naik ke Ijen. Dan emang seru banget.. Kalau bisa balik trecking lagi, bakal asik rasanya ya.. Sekalian olahraga mental dan tubuh.. 😀
Ikut ngerasain lelahnya daku Kak Hen, hehe.
Ini trekingnya terbilang asik sih ya sebenarnya, karena pemandangan bisa ngobatin rasa lelah. Apalagi pas di curugnya juga bikin seger. Main air dengan bahagia
Yaampun, pantes serasa nggak asing sama foto curugnya. Ternyata aku emang udah ke Curug Cibeureum ini beberapa kali. Yang dua kali dalam rangka hiking. Masya Allah, masih cakep dan asri ya ternyata.
Bener, di Curug ada warung super lengkap. Misal nggak mau berat bawa banyak makanan, udah bisa beli di warung hehehe.
Pengalaman trekking penuh kesan banget ya. Alhamdulillah ketemu sama banyak hal unik, menarik. Mulai dari anak kecil bawa kucing trekking bareng. Banyak lansia pada sehat trekking. Seruuu.
Curug Cibeureum Selabintana ini langsung bikin rindu suasana alam Sukabumi yang adem dan asri.
Perjalanan melewati jalur hijaunya hutan rasanya terbayar lunas pas sampai di depan air terjun yang menyegarkan mata.
Untung aja ga disengat lebah ya kak di sepanjang perjalanan. Ini jadi pembelajaran tuh jgn sampe pake parfum kalo destinasi wisata nya ke hutan. Bakal jadi incaran serangga2 tuh.
Sesekali emang butuh refreshing jauh dari hiruk-pikuk kota nih. Langsung masuk wishlist wajib buat diagendain kalau lagi liburan ke Sukabumi!
Waaaw mantaaap suka akutuh informasi yang lengkap dengan rutenya begini, sangat memudahkan banget. Bikin kepengin ikutan trekking ke Curug Cibeureum lewat Pondok Halimun juga. Ternyata jalurnya lebih adem dan ketolong sama pohon rindang, ya, walau jalannya tetep lumayan nanjak dan bikin ngos-ngosan.
Ngakak pas baca cerita lebah yang ngikutin gara-gara parfum Gucci Flora, unik banget! Beneran kayak kulkas alami juga ya, air tumbler bisa mendadak dingin gitu.
Ka Heniii.. aku malah salfok sama parfum Gucci Flora-nyaa..
Aku penggemar parfum dan wewangian.. uda pernah coba Gucci Bamboo, but not ma style bangeett..
Gucci Flora itu yang kemasannya pink panjang, gitu kan yaa??
Sampai dicintai sama lebah, mashaAllah.. berkah wanginyaa… ka Henii..
Sukabumi memang ga diragukan lagii..
Banyak explorasi curug yang menyenangkan!
Sekaligus bikin lelah, pastinyaa.. pernah juga ke curug di Sukabumi dengan jalur trekking gak sejauh cibeureum via salabintana ini.. dan huh hah… anak-anak alhamdulillah ga ngeluh. Akunya pegel seminggu. huhuhu…
Seru sekali ya perjalanannya ke Curug ada banyak peristiwa yang bisa diulas walaupun saya agak kecewa bagian bayar dua kali kau agak kesel ya bacanya karena ini fenomena yang sering terjadi di tempat pariwisata di Jawa Barat kedua soal bangunan terbengkalai apa yang terjadi dengan pengelolanya ya karena pastinya bangunan itu adalah hasil pemerintah tapi untungnya curugnya indah dan bisa menikmati suasana di sana Apalagi ada anak bawa kucing itu lucu banget
Masya Allah, ini keren banget, healing sekaligus menguatkan fisik. Suasananya juga adem banget, pemandangan indah, meskipun sayangnya pengelola seperti kurang aware karena ada pohon tumbang pun dibiarkan saja. Tiketnya pun masih ramah di kantong, kok malah jadi kepingin trekking tapi di mana? Wong tempat saya isinya sawit dan karet 😃
Beneran pemandangannya indah mbak di sini. Bahkan sebelum curugnya. Teduh dan nampak estetik. Keindahan alam buatan Allah memang luar biasa. Apalagi pas sampai curug. Wuih langsung seger. Kebayang kalau debit airnya lagi besar, lebih wow lagi pemandangannya.
Tapi bangunan terbengkalai milik pemerintah itu suka bikin sedih ya. Kenapa pula nggak dimanfaatkan lagi.
Sedaaap liatnya Mbaa.. kebayang capek sekaligus serunya perjalanan menuju air terjun. 😍 Jalurnya yang menantang justru bikin penasaran, apalagi setelah sampai bisa menikmati suasana alam yang masih asri. Kayaknya memang harus siap fisik dan mental kalau mau trekking ke sini.
Aih seru trekkingnya. Apalagi medannya menantang, jalannya nggak selalu lebar, tapi ada kalanya nemu jalan sempit yang cuma bisa dilalui satu orang ya mbak.
Curug Cibereum secakep itu yaaa. Aku malah penasaran sumber mata airnya/
Ah iya sayangnya papan keterangannya udah pudar ya, sebaiknya demi keamanan dan kenyamanan diperbarui lagi oleh pengelolanya ya mbak.
Oh ya yang penyeberangan kotak-kotak itu jenius sekali yang bikin tali buat pegangan, soalnya kalau nggak bahaya kepleset yaa.
Peminat curugnya banyak bener. Kebayang penuhnya pas musim liburan.
Ternyata ada juga warlok yang jualan makanan dan kayaknya diakomodir ya mbak, karena mereka ada di satu lokasi gitu. Memudahkan kalau yang lagi treking lagi laper dan pengen ngemil2 😀
Seru banget baca cerita tracking mbak Heni
Aku jadi pengen cobain sesekali mau trecking ah
Di malang ada banyak tempat trecking yang bisa dicoba
Nah iya itu bangunannya sayang banget gak terawat. Bingung juga saya tuh ngapain dibangun kalau gak dirawat malah akhirnya terbengkalai. Enaknya trekking ke air terjun tuh, begitu sampai tujuan rasanya seger banget. Makanya suka kangen untuk kembali menikmati air terjun.
Ya Allah Mba…aku pernah trekking di sini juga zaman muda dulu…zaman kuliah sekitar akhir tahun 90-an, sama adekku dan temennya yang memang orang sukabumi dan waktu itu ngajak temen mrk dr canada, suasananya masih luar biasa asri dan terasa banget suasana hutan hujan tropisnya…betul dingin banget udah kayak di mana gt…alhamdulillah kami sampai juga ke curugnya… Ahh sayangnya aku belum kenal blog hahaha…medsos jg blom ada kayaknya
Masya Allah Mbak Ophie,,,,iyaa ini Curug Cibeureum,,,pasti tahun 90 an masih lebih asri dan airnya masih banyaak banget yaa,,,
Sudah puluhan tahun saya tidak trekking Mbak. Padahal dulu, duluuuu sekali saat usia masih 20-an hingga 30-an tiap akhir pekan saya trekking. Jalurnya naik ke gunung Bulusaraung, Tidak sampai puncak, tapi lumayan jalannya berkelok-kelok dan sempit.
Kejadian itu waktu saya masih tugas di kaki gunung Bulusaraung. Setelah pindah ke kota, tidak pernah lagi. Dihitung-hitung sudah 30 tahun tidak trekking.
Nah, baca ini langsung kangen rasanya trekking lagi. Minimal ke daerah yg tidak terlalu menantang jalannya dan suhunya tidak terlalu rendah.
Kalau suhu sudah 18 derajat, duh kebayang rematikku bisa kambuh, hahaha.
Teruslah trekking Mbak, suatu kegiatan yg sangat bermanfaat dan pasti seru.
Biasanya trekking suka pada berangkat abis salat subuh. Jadi, tiba lumayan masih pagi. Menarik banget emang Curug Cibeureum ini. Aku kebetulan beberapa kali ngelewatin bahkan sempat mandi di sela-sela hiking. Udah lama sih, pas masih kuliah. Jadi kangen pengen explore dan nyoba trekking.
Memang bener, nggak bakalan takut nyasar. Rute atau jalurnya jelas dan banyak pengunjung lain juga.
Pengalaman trekking berkesan dan menyenangkan ya.
Wkwkwk aku ikut ngos-ngosan baca ceritanya, kak! Tiga setengah jam trekking, tanjakan, turunan, batu-batu besar, sampai harus pegangan sama Pak Suami… perjuangannya benar-benar nggak main-main. Tapi memang setelah sampai di curug dan ketemu warung lengkap dengan bala-bala, kopi, sampai cappuccino, rasanya perjuangan tadi langsung lunas ya
iyees,,,rasanya hilang semua lelah mbak Aie
Hahaha lucu bgt pas baca tyt ada warung di Curug dan ada org trekking bawa kucing. Mana jua bakwan pula tu warung, aman deh dari kelaparan. Btw, total trekking brp jam kak sampe balik lagi ke parkiran?
waaah indah ya curugnya, lelah dan perjalanan jauh yang terbayar sudah. Healing yang sesungguhnya sih ini, “main” di alam bener-bener rereshing. btw itu diikuti lebah terus tapi gak ngigit kan? tapi kalau baca perjalannya, pengelolanya oke ya meski minim, ngasih tanda jalur jadi gak bingung apalagi ini perjalanan jauh. Perjalanan jauh jadi gak terasa karena viewnya pepohonan segar.
Hmm aku kalau ga baca baik baik pasti salah baca Halimun menjadi Hanimun, hahaha
Makanya memang butuh kacamata nih
Hmm… senang ya mbak kalau trekking ini
Persiapan selain di hari H apa saja ya Mbak lakukan biasanya
wkwkwk,,bisa juga mbak,,,,ke Halimun untuk Hanimun hehe