Trekking ke Curug Cibeureum Selabintana  Sukabumi

0
Trekking ke Curug Cibeureum Selabintana

Setiap menghadapi weekend saya biasa berbincang dengan suami, kira-kira kita mau kemana yaa. Maklum di rumah cuma berdua rasanya bosan deh kalau di rumah terus.  Jadilah kita suka mencari-cari tempat buat menghabiskan waktu libur yang hanya sehari ini. 

Jujur deh, sejak teh Ula mengajak saya ke Ciwangun Indah Camp tempo hari saya jadi kepengen trekking lagi. Abisannya seru banget meskipun nafas ngos ngosan capee hehehe, tapi saya senang bisa menikmati indahnya alam dan jauh dari keramaian.

Menanggapi keinginan saya, akhirnya suami mengajak trekking ke Curug Cibeureum Selabintana. Tapi jalan masuknya dari jalur Pondok Halimun, bukan dari Selabintana. Jadi jalur masuk ke Curug Cibeureum itu ada dua yaa, satu dari jalur Selabintana dan dua dari jalur Pondok Halimun. Saya lebih suka lewat Pondok Halimun karena jalannya lebih bersahabat.

Rute ke Curug Cibeureum

Saya dan suami mengambil rute Pondok Halimun untuk sampai ke tujuan. Curug Cibeureum masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Untuk menuju ke Curug, saya harus sampai terlebih dahulu ke Pondok Halimun. 

Pondok Halimun adalah daerah wisata berupa camping ground dan perkebunan teh. Pondok Halimun selain menjadi titik start trekking ke curug Halimun juga menjadi titik pendakian ke Gunung Gede Pangrango via Selabintana. 

Saya berangkat dari Cibadak mengendarai motor bersama suami. Jadi dari Cibadak langsung saja menuju arah Selabintana via jalan Lingkar Selatan (Jalur). Setelah berada di Jalan Selabintana, nanti akan ada pertigaan belok ke kiri ke arah Perbawati. Nanti di pertigaan tersebut ada plang dengan tulisan Pondok Halimun. 

Naah, dari belokan tersebut terus saja ikuti jalan utama sejauh kurang lebih empat kilometer. Sepanjang jalan menyusuri rute ini saya disuguhi pemandangan indah dan melewati perkebunan teh. Perkebunan teh ini masuk ke wilayah PTPN VIII. Ada beberapa titik jalan  yang kondisinya sudah rusak dan berlubang. Tapi tidak terlalu jauh hanya beberapa kilo saja menjelang akhir sampai ke Pondok Halimun.

rute ke Curug Cibeureum
Pemandangan indah membersamai perjalanan ke Curug Cibeureum

Nanti akan melewati gerbang pertama berwarna biru yang bertuliskan Pondok Halimun, tidak begitu jauh dari sana ada gerbang kedua yang menandakan saya masuk ke area wisata Pondok Halimun, gerbangnya berwarna kuning. Kedua gerbang ini saya lupa foto malah keasyikan ambil video.

Setelah sampai ke Pondok Halimun, jangan berhenti parkir di depan tempat wisata yang banyak warung-warung itu tapi lanjut saja terus menuju Resor PTN  Selabintana TNGGP. Dari halaman parkiran lanjut masuk ke dalam dan saya melalui tempat Camping Ground Paseban tempat saya camping di awal tahun lalu. Naah setelah masuk ke dalam sekitar 3 menit nanti akan sampai ke lokasi yang dituju. Saya melihat plang besar bertuliskan Bumi Perkemahan Baru Halimun dan saya  parkir motor disini saja. 

Berapa Kita Membayar Tiket?

Saat akan menuju Pondok Halimun, saya melewati pos retribusi masuk ke kawasan wisata. Disini saya membayar karcis retribusi dua belas ribu per orang. Jadi total saya membayar dua puluh empat ribu untuk berdua. 

Petugas tiket mengatakan bahwa, tiket saya ini jangan hilang karena bisa digunakan untuk masuk ke spot wisata milik Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi.

Trekking ke Curug Cibeureum
Tiket yang kami bayar di gerbang pertama. Gerbang kedua lupa dipoto deh

 

Trekking Curug Cibeureum
Ini pitu gerbang menuju jalur trekking Curug Cibeureum jalur Pondok Halimun

 

Trekking ke Curug Halimun
Parkiran tempat kita memarkir motor lokasinya tepat di depan masjid area Bumi Perkemahan Baru Halimun

Saat sampai di Bumi Perkemahan Baru Halimun, saya kembali membayar tiket retribusi sebesar tujuh belas ribu. Tiket ini untuk apa? Jadi tiket ini merupakan biaya masuk menuju Trekking Curug Cibeureum. Jadi, saya membayar tiket dua kali yaa. Total tiket yang saya bayar adalah lima puluh delapan ribu. 

 

Apa yang Saya Temui Sepanjang Perjalanan?

Setelah membayar tiket masuk menuju Curug Cibeureum, suami segera memarkirkan motor di parkiran yang sudah tersedia. Dekat tempat parkir tersebut ada peta rute menuju Curug Cibeureum. Waah pas saya melihat peta tersebut lumayan jauh juga yaa,,,,wkwkwkwk. Ah semoga kuat,,,semoga kuat,,,

Trekking ke Curug Cibeureum Selabintana
Peta jalur trekking ke Curug Cibeureum niih

Ternyata perjalanan ke Curug Cibeureum sangat menyenangkan meskipun saya akui sangat melelahkan dan capee beneer hehehe. Lalu apa saja yang saya temui sepanjang perjalanan menuju ke Curug Cibeureum? Yuuk pantau terus cerita saya yaa.

Jangan Takut Nyasar 

Jalur trekking menuju Curug Cibeureum banyak sekali penanda arah jadi saya tidak khawatir tersesat atau nyasar. Tanda yang paling besar saya temui adalah dua buah plang berwarna hijau yang menunjukkan arah percabangan kalau belok kiri adalah menuju jalur pendakian Gunung Gede Pangrango dan tanda satu lagi adalah petunjuk jalan menuju Curug Cibeureum.

Begitu juga di tempat lainnya, ada plang kecil dengan tanda panah berwarna merah dengan tulisan Curug Cibeureum. Hanya sayang kalau menurut saya perpaduan warna antara hijau dan hitam jadi tulisannya tidak begitu jelas terlihat. Enaknya sih warna tulisan Curug Cibeureumnya tuh putih gitu, jadi kelihatan dari jauh juga.

Curug Cibeureum Selabintana
papan petunjuk rute ke Curug Cibeureum Selabintana

papan petunjuk arah ke Curug Cibereum

Jalanan Berbatu

Sepanjang perjalanan dari sejak mulai memasuki jalur trekking hingga menuju curug jalannya itu berbatu makadam. Jadi walaupun hujan tidak akan becek jalannya karena berbatu. Di awal-awal jalur trekking, malah ada terpasang batu alam persegi empat berukuran kecil di sepanjang sisi kiri jalur trek. Saya pikir hebat banget ini perhutani , effort bener yaa memasang batu-batu alam tersebut. 

Selanjutnya , jalanan makin sempit terkadang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Kemudian melebar lagi. Tapi selebar lebarnya jalan tetap hanya bisa dilalui oleh dua orang berpapasan. Namun saat sudah melewati pertigaan jalan yang mempertemukan jalur dari Pondok Halimun dan jalur dari Selabintana, jalanan menuju ke arah Curug lebih lebar dan bisa dilewati oleh empat orang sekaligus. Tapi beberapa ratus meter di rute terakhir jalan berbatu kembali menyempit. 

Bahkan di rute paling akhir benar benar hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Jadi kalau ada yang dari atas mau naik maka yang dari bawah harus nunggu dulu, atau sebaliknya.  Jalanan tetap berbatu di sepanjang jalur menuju curug Cibeureum. 

Teduh dan Rindang

Kalau boleh saya membandingkan rute trekking antara CIC dan Curug Cibeureum ini jauh berbeda. Kalau di CIC itu sepanjang rute relatif terbuka dan pepohonan meskipun ada yang rimbun tapi karena jalannya lebar sehingga masih bisa terasa panas. 

Perjalanan menuju curug menghadirkan suasana yang sejuk dan menenangkan. Padahal cuaca saat itu cerah puol dan pasti panaas, tapi sepanjang perjalanan sejauh 3,5 km menuju Curug saya tidak merasakan kepanasan sama sekali. 

Saya melalui jalan yang dipenuhi pepohonan rindang di kedua sisinya. SAking rimbunnya dedaunan di sisi kanan dan kiri sampai membentuk semacam kanopi alami yang menaungi sebagian besar jalan.  Sehingga sinar matahari hanya sesekali menembus melalui celah-celah daun. 

kondisi jalan ke Curug Cibeureum
Jalanan berbatu sepanjang rute

 

Jalur trekking Curug Cibeureum
Jalanan berbatu sepanjang rute

Saya bisa menghirup udara sepuasnya dan terasa lebih segar, sementara suasana teduh membuat perjalanan menuju curug terasa nyaman. Saya sebenernya banyak ngos ngosannya lho akibat kecapean dan medan yang dilalui cukup nanjak mudun gitu tapi karena rimbun dan teduh serta segar jadi cepat pulih deh capeknya. 

Jalan berbatu yang sempit justru menjadi bagian dari daya tarik perjalanan, karena menghadirkan pengalaman menyusuri kawasan alami yang masih terjaga. Keteduhan pepohonan, udara yang sejuk, serta pemandangan hijau di sepanjang perjalanan menjadikan akses menuju curug tidak sekadar sebagai jalur penghubung, tetapi juga bagian dari pengalaman menikmati keindahan alam. Betah saya trekking ke Curug Cibeureum meski capeenya masya Allah tapi saya puaas buangeeets 😃😃😃

 

Air Jadi Sedingin Es

Saya tuh kan dari rumah membawa bekal air di tumbler. Airnya dengan suhu ruang biasa alias gak dingin dan gak panas juga. Eh tau gak setelah diajak trekking ke jalur curug ini airnya jadi dingiiin mak nyees deh. Enak banget segeer serasa punya kulkas alami. Airnya jadi dingin sedingin es.

Saya lihat ke HP suhu di luar itu sekitar 18 derajat celcius dan ini posisi udah siang yaa. Kebayang gak berapa derajat celcius tuh kalau pas lagi malam hari. . Jadi pantes aja sih jadi dingin. Tapi masih kalah jauh sih dengan dinginnya suhu saat saya kemping di Rancaupas

Trekking ke Curug Cibeureum
Ini air minum saya jadi dingin banget dan bala-bala gak sampe semenit langsung dingin tadinya panas

Bangunan Bagus Tapi Terbengkalai

Sepanjang menyusuri jalur trek saya melihat bangunan milik Perhutani yang terbengkalai. Padahal saya lihat bangunannya tuh bagus lho baik dari sisi kualitas maupun desainnya. Kalau kata suami sih bahannya gak ece-ece alias bahan pilihan dan pengerjaannya juga rapi.

Bangunannya bermacam-macam ada toilet, aula dan saung-saung gazebo gitu. Sayang aja sih beneran deh kalau ada perawatan secara berkala pasti akan jauh lebih bermanfaat.

Curug Cibeureum Selabintana
Bangunan yang terbengkalai saya temui di sepanjang jalur trekking

Banyak Pohon Tumbang

Seperjalanan mulai dari awal jalur trekking hingga sampai ke Curug ada beberapa titik di jalan yang terhalang pohon tumbang. Saya hitung ada lebih dari lima deh pohon yang tumbang. Besar pohonnya beragam ada yang kecil hingga agak besar dan menghalangi seluruh jalanan trekking. 

Pihak pengelola Curug agaknya memang tidak berniat untuk menyingkirkan batang pohon yang menghalangi tersebut. Kenapa?  Karena saya lihat batang pohon itu  dibiarkan begitu saja menghalangi jalan. Tapi memangnya juga tidak begitu mengganggu sih, masih bisa dilewati dengan melompatinya. Batang-batang pohon yang tumbang itu tidak terlalu besar ukurannya. 

Hanya saya sih membayangkannya tuh, gimana coba kalau pas pohon itu tumbang pas kebetulan ada orang lewat. Gimana kalau menimpa pejalan kaki yang sedang trekking yaa. Ah udah ah, nggak mau membayangkan yang aneh-aneh. 

Trekking ke Curug Cibeureum
Pohon tumbang di jalur trekking

 

Jalan Menanjak dan Menurun

Selayaknya jalur trekking ke curug pada umumnya pasti banyak tanjakannya. Jalur ke curug itu latihan tipis-tipis super tipis hehehe  buat naik gunung. Sepanjang jalan saat di perjalanan suami beberapa kali bertanya dengan nada lembut hahaha, “ Gimana mau lanjut atau kembali pulang aja?” Saat melihat saya seringkali berhenti dengan nafas ngos ngosan menahan setelah melalui tanjakan yang panjang. 

Oh iya catatan aja deh ini sih buat yang mau trekking ke Curug, jadi sebaiknya gunakan kaos kaki yang terbuat dari katun. Kenapa? Karena dijamin deh kalau enggak pake kaos kaki dari katun nanti kaki gak mau diem. Kek saya kemarin, pas di jalan yang menurun tajam, ujung kaki sampe sakit-sakit karena kaki yang terdorong ke depan karena kaos kaki licin. 

Kondisi ini berbeda dengan saat trekking ke Ciwangun karena saat itu saya mengenakan sandal gunung. Pas mantap deh, pakem bener menapak di tanah berbatu, tanjakan dan turunan. 

Perbandingan jalan menanjak, menurun dan datar adalah 70:30:20. Gitu deh kira-kira,,,jadi emang lebih banyak nanjaknya.

Trekking ke Curug Cibeureum
jalur trekking terakhir sebelum sampe Curug,,menanjak dan terjal

Ada Jalur Khusus Menyeberang Sungai

Pijak pengelola jalur trekking di Curug Cibeureum memang benar-benar memudahkan pengunjung untuk bisa melintasi sungai dengan nyaman. Jadi di jalur penyeberangan ada tembok-tembok kotak panjang yang dibanggun untuk dilintasi saat menyeberang. Sehingga pengunjung tidak harus menginjak permukaan sungai dan menyebabkan kakinya basah deh nanti. 

Terus juga di sisi penyeberangannya ada tali terbentang yang berfungsi agar penyeberang sungai bisa berpegangan  padanya. Jadi aman kaan gak bakalan jatuh karena ada pegangan. 

Ada juga jembatan di beberapa titik yang sangat aman untuk pengunjung lalui. Termasuk jembatan terakhir sebelum naik trekking terakhir sebelum sampai ke curug. 

Trekking ke Curug Cibeureum
Jalur khusus menyeberang sungai

Bertemu Persimpangan Jalan dua Jalur

Jalan persimpangan ini sudah saya singgung sedikit di bagian atas cerita saya ini. Jadi seperti sudah saya bilang bahwa jalur menuju Curug Cibeureum Selabintana ini ada dua jalan, yaitu jalur Pondok Halimun dan Jalur Selabintana. Naah, di atas itu ada jalur pertemuan dua rute ini. 

Petugas pengelola Curug nampak berjaga di jalur pertemuan dua rute ini. Mereka mencegat pengunjung dari jalur Selabintana karena di depan pas masuk jalur trekking tidak ada loket karcis. Sementara jika masuk dari jalur Pondok Halimun pengunjung  membayar tiket resmi.

Di jalur pertemuan itu saya kembali bertemu dengan petugas yang menarik tarif pada saya saat di gerbang masuk tadi. Kalau menurut beliau nih, mereka berjaga pada saat weekend atau libur panjang karena di hari tersebut pengunjung ke Curug banyak. Kalau hari kerja jarang yang trekking mungkin karena pada kerja atau sekolah kali yaa…

Trekking ke Curug Cibeureum
Persimpangan pertemuan jalur Pondok Halimun dan dari arah Selabintana. Nampak bangunan terbengkalai ada juga disini

Kondisi Track Terakhir 

Naah, track terakhir sebelum sampai ke curug adalah jalur yang paling menantang banget. Jadi yaa, jalurnya itu pertama jelas sangat menanjak tajam, kedua tanjakannya itu berupa undakan yang tinggi , ketiga di jalurnya ini banyak batu-batu besar. 

Belum lagi jalurnya ini permukaannya basah oleh air yang dibawa pengunjung curug. Koq bisa? Iya bisa dong karena pengunjung yang sudah menikmati pesona curug mereka banyak yang nyebur atau basah basahan, jadi pas pulang bajunya basah kaan. Gitu ceritanya, jadi aja jalurnya basah deh. 

Bener-bener deh,,,saya keknya gak bisa naik kalau gak ditarik-tarik sama pak Suami hahaha. Nuhuun pisaan Pak Suami,,,you are amazing selalu jadi tempat saya berpegangan sepanjang perjalanan. Fotonya udah saya simpan di atas yaa

Eh Ada Warung di Curug

Setelah berjuang selama tiga setengah jam mendaki gunung, lewati lembah berkelana wkwkwk,,,akhirnya sampai juga di tujuan. Daaan,,,tahu gak apa yang saya saksikan di atas ini? Yuups,,,warung guys waruuung mana lengkap lagi barang jualannya ada bala-bala panas, kopi, mie, kue-kue cemilan, sampai matcha dan cappucino. 

Emang enak sih,,,abis cape nanjak pas di atas jajan bala-bala deh. Enaak sungguh nikmat Tapi, saya masih bisa tahanin , soalnya kata suami nanti aja kalau udah turun ke curug yaa jajannya. Sekarang kita turun dulu ke Curug Cibeureum. Jadi dari warung ini saya tinggal menuruni tangga sebentar udah deh sampai ke Curug Cibeureum. 

 

Trekking ke Curug Cibeureum Selabintana
Ini lho warungnya, lengkap banget lagii wkwkwk

 

Akhirnya Sampai di Curug

Akhirnya ya Allah perjalanan panjang saya sampai juga di Curug. Setelah sepanjang perjalanan berkali-kali saya bertanya ke pengunjung yang kebetulan berpapasan. Saya bertanya, “Teh atau pa bu,,ini ke Curug masih jauh gak? Dan jawabannya oh masih jauh, oh masih setengah perjalanan lagi. Dan jawaban melegakan adalah saat akhirnya sampai pada jawaban “gak lama teh, palingan sepuluh menit lagi.”

Masya Allah Curug Cibeureum itu indah sekali. Dengan tinggi enam puluh meter dan dua aliran air terjun d paling atasnya. Melihat air meluncur dari atas ke bawah kemudian memercik pas di bawah wiiih bagus banget deeh. 

Curug Cibeureum Selabintana
Curug penuh pengunjung, saya jadi mikir yaa mereka naiknya jam berapa? saya aja yang jam setengah delapan berasa udah paling pagi aja hehehe

 

Trekking ke Curug Cibeureum
Curugnya indah banget yaa tinggi pisaan. Plang keterangan curugnya kalau di cat dan ditulis ulang sepertinya bagus deh.

 

Trekking ke Curug Cibeureum Selabintana
Wiih indahnyaaa, gak espek saya bisa kuat jalan sampe sini

Tapi kalau kata suami sih, sekarang debit air terjun sudah jauh berkurang. Dulu itu, di bawah air terjun yang sekarang dijadikan tempat orang pada kumpul-kumpul itu tuh dulunya terendam air juga. Seluruh lapisan tebing itu tertutup oleh air terjun. Sekarang hanya setengahnya saja. 

Kalau perkiraan saya sih memang karena udah lama tidak ada hujan yaa, jadi pantas saja debit air menurun. Tapii, meskipun begitu air terjun Curug Cibeureum tetap masya Allah indah sekali. Ditambah lagi air di sungai bawah air terjun tuh beniiing bangeet alias bersih tiada tanding. Saya lihat juga tidak banyak sampah, baguslah berarti pengunjung menjaga kebersihan.

Pengalaman Unik Sepanjang Perjalanan

Ada beberapa pengalaman menarik saat saya trekking ke Curug Cibeureum ini. Pertama, saya bertemu dengan seorang anak kecil dengan kucing kesayangannya yang bernama Ilo. Anak ini niat banget membawa kucing ke curug, saya melihat di tas gendongnya ada makanan kucing yang dimasukkan ke dalam botol air mineral. Kucingnya dikasih tali kekang biar bisa dituntun. Beberapa kali saya melihatnya berhenti untuk istirahat. Seru juga yaa trekking membawa hewan kesayangan.

Trekking Curug Cibeureum Selabintana
Naah, ini dia Ilo kucing yang diajak sama adek kecil ini

Kedua, saya dan suami lumayan lama lho diikuti oleh lebah. Meskipun sudah diusir lebah itu tetap muter-muter di sekitar tubuh saya dan suami. Yaa sebenarnya nggak menggigit sih cuma jadinya gak nyaman aja. Sepanjang jalan ngiung-ngiung tuh lebah muterin saya.

Naah setelah di atas, kita cerita tuh ke amang warung sambil kita istirahat. Terus si amang warungnya bertanya, Ibu dan bapak pake parfum ya? Lalu kujawab aja iyaaa. Oh ternyata , lebah itu tertarik pada wangi parfum apalagi kalau parfumnya wangi bunga. Oh iya sih, parfum saya kan Guci Flora yang saya beli di WIN Parfumery kan itu wanginya wangi bunga. 

Ketiga, saya bertemu dengan banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah usia lansia dan pra lansia. Mereka sudah tidak muda lagi, yaa sama seperti saya usia empat puluh atau lima puluh tahun ke atas. Bahkan ada juga lho saya berpapasan dengan sepasang suami istri yang bener-bener udah sepuh. 

Kata suaminya, sang istri sengaja diajak trekking kesini karena sedang terapi kakinya yang sakit. Tapi memang tidak sampai Curug sih, melainkan hanya sampai pertigaan pas pertemuan jalur trekking yang saya ceritakan di bagian atas cerita saya. 

Penutup

Alhamdulillah , perjalanan trekking pekan ini adalah salah satu trekking paling menyenangkan bagi saya. Selain jalurnya nyaman dan tidak panas karena pohonnya rindang banget kek di hutan antah berantah. Pemandangan di Curugnya juga indah bangeet. Rasa lelah dan cape langsung buyar terpuaskan oleh indahnya Curug Cibeureum. Perjalanan pulang lebih cepat deh karena lebih banyak jalanan menurunnya jadi tidak banyak berhentinya. 

BLOGGER II LIBRARIAN II MOTHER. Senang berbagi cerita dan pengalaman semoga bermanfaat bagi semua.

Related Posts

Leave a Reply

About Me

BLOGGER II LIBRARIAN II MOTHER. Senang berbagi cerita dan pengalaman semoga bermanfaat bagi semua.

Jelajah Bermakna

Most Viewed Posts

Recent Posts

Perpustakaan YARSI
Berkunjung ke Perpustakaan YARSI: Nyaman dan Bikin Betah
8 Agustus 2026
toko legend di Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi
Toko Legend di Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi
7 Agustus 2026
paket tour Magelang
Wisata Satu Hari di Magelang: Dari Negeri Dongeng Sampai Naik Jeep di Atas Awan
6 Agustus 2026

This Blog Member of:

ODOP
Seedbacklink
Seedbacklink affiliate
Banner BlogPartner Backlink.co.id
Intellifluence Trusted Blogger
Agustus 2026
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Total Visitor Counter:

N/A

Contact Me for Collaboration


My New Stories

Trekking ke Curug Cibeureum Selabintana
Perpustakaan YARSI
toko legend di Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi
paket tour Magelang
Paket wisata Cirebon
Ancol Taman Impian
Tips memilih tempat makan di perjalanan
Liburan ke Ujung Genteng bisa kemana aja