Saya dan suami mampir ke Red Brick setelah lelah mendaki bukit menuju Curug Cibeureum. Rasanya lapar deh jadi saya memutuskan untuk makan siang di Red Brick. Cafe di Sukabumi ini berseberangan langsung dengan restoran Jepang yang tidak kalah menarik makanannya enak–enak juga.
Table of Contents
Lokasi Red Brick Cafe
Lokasi Red Brick Cafe ada di belakang bengkel Vanali. Bengkel mobil Vanali motor masih satu pemilik dengan cafe . Jadi kalau misal saya males yaa bosen nunggu mobil sedang diservice suka pergi aja ke belakang ngopi dulu di Red Brick. Alamat lengkapnya ada di
Red Brick Cafe: Jl. Pelabuhan II No.271, Cikondang, Citamiang, Kota Sukabumi
Kalau dari perempatan jalur dari arah Cibolang tinggal belok saja ke kiri . Terus saja lurus nanti bengkelnya tuh ada di sebelah kiri. Naah, belok aja samping bengkel tuh ada jalan masuk. Kafe ada di belakang bengkel persis.
Gaya Bangunan Red Brick Cafe Sukabumi
Pertama kali saya berkunjung ke Red Brick Cafe itu bersama teman-teman di tempat kerja. Saat itu kita datangnya pas weekday jadi tidak terlalu ramai. Kesan pertama saat melihat cafe ini adalah pemilik cafe membangun tempat ini bukan sekadar tempat untuk makan saja. Bangunannya full bata ekspos jadi memberikan karakter cukup kuat.
Gaya Bangunan
Gaya bangunan dengan bata merah begini jadinya unik sih kalau menurut saya. Dinding bata merah tuh ya memberikan kesan hangat, rustic, sekaligus sedikit klasik. Nama “Red Brick” terasa benar-benar sesuai dengan tampilan bangunannya. PAs bener yaa namanya Red Brick yang artinya batu bata merah.



Begitu saya masuk ke dalam ruangan bangunan kafe kesan karakter berani makin muncul saja. Masih dengan dinding bata merah, di dalam bangunan cafe banyak elemen kayu dan detail arsitektur gedung bergaya western. Di tangga dan pagar bagian atas terpasang kayu kayu bulat menyerupai setir mobil.
Pas di dinding yang berhadapan dengan tangga utama yang akan menuju ke lantai dua, saya melihat lukisan kuda yang sedang mengangkat kedua kaki depannya. Naah kaan gaya western dan koboinya makin kuat saja. Bata merah dipadukan dengan elemen kayu dan berbagai detail bernuansa western.
Sekilas, suasananya mengingatkan pada bangunan klasik bergaya American Western atau saloon yang kemudian dikemas menjadi tempat nongkrong modern. Meskipun saya melihat ada kesan sedikit vintage, tetapi tetap nyaman dan tidak terasa seperti sedang masuk ke bangunan tua.
Bagi saya, melihat berbagai ornamen dan gaya detail bangunan di Red Brick Cafe ini bukannya terlihat berlebihan, justru perpaduan antara bata, kayu, pencahayaan, dan ornamen tersebut membuat ruangan memiliki identitas yang cukup kuat.
Bangunan Dua Lantai
Red Brick Cafe terdiri dari dua lantai dengan pilihan area duduk yang cukup beragam. Lantai satu ada area kasir dan penyiapan makanan pesanan. Ada juga beberapa meja dan kursi untuk pengunjung menikmati makanan.
Sementara lantai dua ada beberapa meja dan kursi dan ada juga sebuah televisi besar di salah satu bagian sudut ruangan. Dinding di lantai satu dan dua memiliki banyak jendela menjadikan pencahayaan terasa lebih terang.
Oh iya, lantai dua ini bentuknya leter U yaa jadi bagian tengahnya tuh bolong. Sehingga saya bisa leluasa melihat ke arah bawah tepatnya ke lantai satu. Di bagian kanan dan kiri ada tangga yang masing-masing menuju ke bagian tengah. Tepat di bawah lukisan patung kuda tadi.
Area Indoor dan Outdoor
Bagi yang lebih suka suasana tenang dan nyaman, area indoor bisa menjadi pilihan. Area indoor letaknya ada di bagian dalam bangunan cafe. Sementara itu, area outdoor ada di teras cafe, memberikan pengalaman yang sedikit berbeda karena pengunjung bisa menikmati suasana sekitar sambil ngobrol santai.
Adanya pilihan area seperti ini membuat Red Brick terasa fleksibel. Apakah mau datang untuk makan, nongkrong bersama teman, mengerjakan pekerjaan, atau sekadar menghabiskan waktu sore? Semuanya terasa cocok kok. Termasuk saya yang memang datang ingin makan karena lapar setelah trekking ke curug
Menu Makanan di Red Brick
Untuk menuntaskan rasa lapar, saya memesan gyudon, beef pepper rice, Cream of mushroom soup, pink panther, cendol float dan satu teko penuh teh Vietnam,,eh bener gak yaa namanya itu hehe,,lupaa

Gyudon
Di hadapan saya sekarang ada semangkuk nasi Jepang hangat yang mengepul, lalu di atasnya tersaji irisan tipis daging sapi yang lembut bersama taburan bawang putih dalam kuah gurih-manis berbahan shoyu, mirin, dan dashi. Inilah menu Gyudon, salah satu comfort food paling populer di Jepang yang ada di Red Brick Cafe.
Naah, rasanya tuh pada setiap suapan menghadirkan perpaduan nasi pulen, daging juicy, rasa umami yang kaya. Sederhana, cepat disajikan, tetapi tetap kaya rasa, naah itulah yang membuat gyudon begitu itu spesial.
Beef Pepper Rice
Kalau saya harus menggambarkan beef pepper rice, ini adalah comfort food yang sederhana tapi susah ditolak: nasi hangat disajikan bersama irisan tipis daging sapi, jagung manis, daun bawang, dan lada hitam yang aromanya langsung terasa begitu semuanya bercampur di atas hot plate.
Yang paling saya suka justru momen saat saus gurih-manis mulai meresap ke nasi, dagingnya matang perlahan, lalu muncul sedikit bagian nasi yang kecoklatan dan renyah di bawahnya. Rasanya gurih, buttery, sedikit pedas dari lada, dan semakin nikmat saat disantap selagi masih panas. Mmmhhh yummy banget deh.
Agak kalap juga nih rupanya saya memesan makanan. Udah pesan sepiring Gyudon masih pesan cream mushroom Soup. Tapi karena lapar apa doyan yaa hehe makanannya abiis.

Cream Mushroom Soup
Cream mushroom soup adalah sup lembut dan creamy yang dibuat dari jamur yang dimasak bersama bawang, butter, kaldu, dan krim hingga menghasilkan rasa gurih yang hangat dengan aroma jamur yang khas.
Teksturnya kental namun tetap halus, dengan potongan jamur yang memberi sedikit sensasi kenyal di setiap suapan. Rasanya cenderung savory, creamy, dan comforting, sehingga cocok dinikmati sebagai hidangan pembuka atau teman makan saat ingin sesuatu yang hangat dan menenangkan.
Cream mushroom soup saya makan di akhir setelah makan nasi, meskipun sebenarnya bisa juga saya makan di awal tapi keburu lapar sih jadi makan nasi duluan aja wkwkwk.
Minuman Pesanan Kami
Oh iya untuk minumannya kami pesan pink panther, cendol float dan satu teko penuh teh panas Pink Panther itu menu baru namanya Pink Panther, sesuai namanya warna minumannya tuh pink dan rasanya manis segar karena ada jeruk lemon di dalamnya. Tapi saya gak banyak mencicipi soalnya itu minuman suami hihihi.
Saya sendiri memesan cendol float, tapi ternyata aduuuh maniiiis sekali, jadi saya gak bisa minum banyak banyak. Dah saya minta abi buat bantu menghabiskan.

Rasanya haus banget deh belum minum air. Akhirnya saya pesan teh panas gak tau deh nama minumannya apa, saya lupa. Tapi yang jelas teh panasnya tuh enaak banget, ada tersedia juga gula tapi saya memilih rawa tawar saja. Saya tidak menambahkan gula pada teh panas.
Kesan Makan di Red Brick
Red Brick Cafe berapapun seringnya saya kesini sepertinya tidak akan pernah bosan deh. Soalnya makanan disini enak-enak. Menu makanan di Red Brick Cafe variatif , minumannya juga bermacam rupa. Tapi tetep teh tawar tidak akan saya skip hehehe, soalnya makan tanpa minum teh seperti masakan tanpa garam tidak akan lengkap.
Ruangan di Red Brick Cafe juga bikin betah karena desain bangunannya beda, meskipun tingkat dua tapi bagian lantai satu dan dua tidak sepenuhnya tertutup. Sehingga saya masih bisa melihat bagian dapur bekerja dari lantai dua. Tempat favorit saya adalah meja kursi yang i duduknya di pojokan dekat jendela. Aduuh adeem bangeet deh.
Penutup
Terima kasih teman-teman sudah membaca cerita saya menghabiskan waktu di Red Brick Cafe. Senang banget akhirnya bisa menuntaskan rasa lapar setelah perjalanan jauuh menuju Curug Cibeureum.
0























