Saat bercerita tentang touring ke Sawarna, disana saya bilang bahwa ada satu kampung adat yang dikunjungi. Jadi saat touring tersebut, saya berkunjung ke Kasepuhan Sinar Resmi. Salah satu kasepuhan dari beberapa kasepuhan kampung adat yang ada di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi.
Kasepuhan Sinar Resmi merupakan bagian aspek budaya yang tidak terpisahkan dari Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu. Sinar Resmi juga merupakan salah satu Kasepuhan Banten Kidul yang masih ada.
Table of Contents
Perjalanan ke Kampung Adat Sinar Resmi
Perjalanan ke Sinar Resmi masih satu bagian touring ke Sawarna. Saya ulas sedikit deh perjalanannya. Jadi Kalau saya mau ke Sinar Resmi itu dari Jalan Raya Cisolok ada belokan ke arah kanan menuju Jalan Cirenik. Dari sini terus saja mengikuti jalan utama, nanti akan bertemu dengan Jalan Raya Cikelat. Jalannya bagus persis seperti jalan di Cikidang.
Naah, nanti tuh ada belokan menuju kampung Adat Sinar Resmi. Jelas koq tulisannya dan ada gapuranya juga, jadi insya Allah tidak akan nyasar. Naah kalau sudah menemukan gapura pintu masuk dari pinggir jalan raya ini, saya tinggal masuk aja kesana. Ikuti saja jalan tersebut. Kondisi jalannya memang rusak jadi hati-hati saja saat melewati jalan ini. Jalannya juga sempit jadi kalau berpapasan dengan kendaraan lain cukup memerlukan keahlian.

Setelah beberapa saat melewati jalanan, nanti akan ada percabangan jalan lagi. Keduanya menggunakan gerbang gapura, sebelah kanan itu menuju Kampung Adat Cipta Mulya yang tempo hari terkena musibah kebakaran. Sementara jalan sebelah kiri atau lurusan jalan utama itu menuju Kasepuhan Sinar Resmi. Jalanan ini juga adalah rute yang sama menuju Kasepuhan Gelar Alam. Jadi ada beberapa kasepuhan adat yaa di daerah Cisolok ini.
Kasepuhan Sinar Resmi adalah Bagian dari Itinerary Perjalanan
Saya senang sekali saat tahu bahwa kasepuhan adalah bagian dari itinerary perjalanan. Sudah lama saya sebenarnya ingin berkunjung ke Kasepuhan kampung adat. Meskipun tidak spesifik Sinar Resmi yang penting kampung adat aja. Saya tertarik karena saya mengikuti perjalanan anak saya waktu menulis penelitian OPSI tentang kasepuhan kampung adat Gelar Alam.
Alamat Kasepuhan Sinar resmi: Sirnaresmi, Kec. Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat 43366
Alhamdulillah kesempatan berkunjung ke Kampung adat akhirnya ada juga lewat perjalanan touring bersama teman-teman di pekerjaan. Meskipun saat saya dan teman-teman berkunjung kesana, ternyata Abah Asep nya sedang tidak ada. Tapi ada anaknya dan istri Abah ada dan menyambut kami semua.
Penerimaan yang Baik dan Berkesan
Begitu sampai ke wilayah Kasepuhan Kampung Adat Sinar Resmi, saya dan rombongan langsung menuju ke lapangan luas untuk parkir. Jadi lokasi yang akan saya kunjungi adalah wilayah utama Kasepuhan yaitu satu bangunan utama yang disebut Imah Gede,
Kami semua diterima dengan baik di Imah Gede oleh tuan rumah. Anaknya abah juga sekaligus memohon maaf karena kedatangan kami ke Sinar Resmi tidak bisa disambut oleh Abah langsung karena beliau ada agenda lain yang harus dihadiri.
Meski begitu, ada tuan rumah yang mendampingi kami yaitu Kang Vika anak ke dua Abah dan ada juga Kang Dadan yang mengajak kami berkeliling sambil menjelaskan.



Berbagai makanan khas kasepuhan tersaji tidak lupa minum air putih buat kami ikut tersaji. Ada satu kue tradisional yang saya suka dan rasanya enak, tapi saya lupaa namanya hehehe yang jelas bentuknya tuh persis kue celorot.
Dari sini saya belajar bahwa memang agak dadakan juga pengajuan untuk berkunjung kesini. Jika ingin well prepare harus dari jauh-jauh hari mengajukan kunjungannya. Tapi tidak apa, dengan bisa datang , berkunjung dan melihat serta masuk ke dalam Imah gede saja saya sudah senang sekali.
Melihat Lebih Dekat Imah Gede Kasepuhan
Imah Gede jika diibaratkan dengan sebuah pemerintahan maka disinilah pusat pemerintahan berada. Imah Gede juga sekaligus sebagai rumah dinas Abah. Abah adalah julukan bagi seseorang yang menjadi pemimpin masyarakat adat di kasepuhan. Imah gede berderet bersisian dengan Balai Urang, ini adalah sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan. Saat ini Kasepuhan Sinar Resmi dipimpin oleh Abah Asep Nugraha.
Abah adalah tutunggul atau pemimpin di kasepuhan dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan. Estafet kepemimpinan di kasepuhan berbeda dari kehidupan masyarakat modern pada umumnya.
Di Kasepuhan Sinar Resmi, seorang pemimpin tidak dipilih melalui bilik suara seperti pemilihan pemimpin dan para wakil rakyat. Abah lahir dari garis keturunan adat dan beliau menerima amanat yang diyakini berasal dari para leluhur yang biasa disebut juga dengan nama wangsit.
Bagian Dalam Imah Gede
Imah Gede menghadap ke sisi utara. Setelah saya dan rombongan memasuki ruangan utama Imah Gede, kami semua dipersilahkan duduk di lantai kayu atau kalau dalam bahasa Sunda disebut talupuh. Ada sesuatu yang tak biasa disini saya rasakan yaitu di luar sana tuh sedang panas-panasnya tapi saat saya memasuki bangunan Imah Gede ini langsung hawa dingin terasa. Beneran deh panasnya hilang dan Nyees dingin di dalam ruangan saya rasakan.


Ruangan utama ini besar sekali, mampu menampung banyak tamu. Tidak ada kursi disini, hanya ada karpet untuk tempat duduk para tamu. Ruangannya bersih dan berlantai papan kayu. Atapnya juga tidak ada tuh plafon seperti di rumah rumah pada umumnya.

Imah Gede tidak dibangun dengan semen dan tembok tapi berbahan kayu dan bilik saja. Pantas saja saat masuk ke dalam bangunan tuh dingin rasanya. Di dinding rumah banyak pajangan foto terpasang disana.
Saya berkesempatan juga masuk ke bagian dalam Imah Gede. Di belakang ada dapur dengan hawu sebagai alat memasak. Bangunannya tidak menapak ke tanah alias ada kolong di bagian bawahnya. Saya pun mencoba untuk mengangsur kayu bakar dan melihat proses memasak di dapur.


Setelah melihat bagian dapur di belakang, saya pun naik ke lantai dua. Naah, di lantai dua ada deretan kamar-kamar. Ternyata kata ibu yang menemani saya, kamar-kamar ini biasa digunakan oleh para tamu yang kebetulan datang dan menginap disini. Jadi bisa juga yaa kalau misal suatu saat saya ingin berkunjung dan menginap disini. Saya pun berfoto di lantai dua dengan latar pemandangan Leuit Si Jimat dan galeri oleh-oleh.




Saya tanya sama ibu yang mendampingi, apakah ada coran untuk bangunan tingkat ini? Beliau bilang tidak ada. Semua menggunakan bahan kayu yang kokoh. Waah mantap yaa…
Gaya Bangunan Imah Gede
Bagian dinding Imah Gede ada banyak sekali jendela-jendela dan tiang-tiang sebagai penopang bangunan. Atap bangunan Imah Gede sendiri terbuat dari ijuk. Terus rangka atapnya gimana itu? Jadi ternyata struktur rangka atap terbuat dari material bambu dan kayu terus penutupnya dari ijuk, daun rumbia atau Kiray.
Dengan bahan tersebut menjadikan penutup atap tuh bahannya terlihat ringan. Konstruksi rangka bangunan menggunakan paseuk (pasak) dan tali rotan. Oh iya bangunan dibuat tanpa paku yaaa, karena dilarang adat.
Imah Gede ini adalah sebuah rumah panggung. Gaya rumah panggung ini selaras dengan kepercayaan orang sunda bahwa bagi masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi, membangun rumah ternyata bukan sekadar mendirikan tempat berteduh. Melainkan ada filosofi yang diwariskan secara turun-temurun di balik bentuk rumah tradisional mereka.


Masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi percaya bahwa manusia seharusnya hidup di tengah-tengah, tidak menyatu langsung dengan bumi, tetapi juga tidak berada di langit.
Itulah mengapa rumah-rumah tradisional dibangun dengan bentuk panggung, ditopang oleh tiang-tiang kayu yang membuat lantainya tidak langsung menyentuh tanah. Menariknya, ternyata tiang-tiang tersebut pun tidak boleh berdiri langsung di atas tanah.
Naah, karena tidak boleh menapak langsung, jadi membutuhkan sebuah alas. Sebagai alas, masyarakat menggunakan batu yang disebut umpak. Jadi, di balik bentuk rumah panggung yang terlihat sederhana, tersimpan pandangan hidup tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya di antara bumi dan langit, sekaligus menjaga keseimbangan dengan alam sekitarnya.
Duuuh keren banget yaa, falsafah di balik rumah panggung. Saya sampai terpana mendengar penjelasan pihak tuan rumah.
Bangunan Lain Di Sekitar Imah Gede
Selain Imah gede , ada beberapa bangunan lain di sekitarnya. Tepat di samping kiri bangunan Imah Gede ada Balai Urang. Balai Urang adalah sebuah ruang pertemuan masyarakat adat Kasepuhan.
Bentuknya besar memanjang, persis seperti Imah Gede tapi tidak bertingkat dan tidak ada jendela. Hanya saja ada bagian dinding yang terbuat dari kayu dan berbolong bolong ada celah . Atap juga terbuat dari ijuk bukan dari genteng.
Selain dua bangunan besar ini, ada bangunan lain yang terletak di sisi timur Imah Gede yaitu Leuit si Jimat dan bangunan Galeri. Leuit Si Jimat adalah sebuah bangunan tempat menyimpan padi komunal warga.
Leuit Si Jimat
Warga tidak menggunakan padi yang tersimpan di Leuit Si Jimat dalam keseharian. Melainkan sebagai stok bahan pangan. Mereka menggunakan hanya saat membutuhkan dalam kondisi mendesak saja. Warga sendiri menyimpan padi mereka di leuit masing-masing yang ada di samping rumahnya.
Ada sesuatu prosesi di KAsepuhan Sinar Resmi untuk menyimpan padi di Leuit Si Jimat yaitu upacara seren taun. Sistem pertanian di Sinar Resmi mampu menghasilkan 68 jenis varietas padi lokal unggulan yang terdiri dari padi huma dan padi sawah. Dalam satu tahun masyarakat hanya panen sebanyak satu kali saja.

Hal ini, sesuai dengan falsafah bahwa menanam padi itu di bumi. Bumi bagi masyarakat adalah seorang ibu atau sebutannya adalah ibu bumi. Seorang ibu hanya melahirkan anak satu kali dalam setahun. Jadi panen padi itu ibaratnya ibu melahirkan sehingga hanya satu kali saja.
Cara menanam padi di Sinar Resmi tidak menggunakan bahan kimia jadi masyarakat menghasilkan padi organik. Dengan demikian kualitas padi adalah yang terbaik. Padi mampu bertahan bertahun tahun tanpa mengalami kerusakan. Bagi masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi sangat mulia, dan pamali jika ada masyarakat yang memperjualbelikannya. Aturan adat yang berlaku adalah hasil bumi ini untuk sendiri, untuk makan bukan untuk dijual.
Galeri Cenderamata
Satu lagi bangunan yang ada di samping Leuit Si jimat yaitu galeri oleh oleh. Galeri ini berfungsi untuk menyimpan berbagai macam produk kerajinan hasil karya masyarakat. Masyarakat menjual barang-barang produk ini ke para pengunjung Kasepuhan Sinar Resmi di galeri. Tapi sayang saat datang kesini toko galeri sedang tutup, jadi saya tidak bisa melihat ada apa saja di dalam toko tersebut.


Lapangan Luas
Seluruh bangunan utama mengelilingi satu lapangan luas. Lapangan ini bisa menjadi tempat parkir saat ada tamu berkunjung. Namun juga sebagai lokasi utama saat ada kegiatan-kegiatan di Kasepuhan Sinar Resmi. Seperti saat pelaksanaan upacara Seren taun, lapang menjadi tempat berkumpul warga dan pengunjung yang hadir untuk melihat jalannya prosesi upacara.
Perhatikan Hal Ini Saat Berkunjung
Kalau kamu ingin berkunjung ke Kasepuhan Sinar Resmi ada beberapa hal yang tidak boleh saya abaikan , yaitu:
- Laki-laki wajib memakai iket kepala sunda
- Perempuan wajib menggunakan kain sebagai rok.
Apalagi jika saat berkunjung berbarengan dengan kegiatan upacara adat tertentu maka ada banyak hal lain yang harus saya perhatikan. Jadi sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada pemandu atau tokoh adat setempat.
Penutup
Akhirnya kesampaian juga saya berkunjung ke kasepuhan SInar Resmi, salah satu kampung adat yang ada di Kabupaten Sukabumi. Dengan berkunjung ke SInar Resmi sedikit banyak saya jadi tahu tentang budaya masyarakat adat dan tentu saja menjadi kebanggaan masyarakat Sukabumi. Sukabumi memiliki ragam khasanah budaya yang luar biasa. Semoga di lain hari saya bisa berkunjung ke kampung adat lainnya, tentu saja dengan touring bersama teman-teman . Seruu yaaa.
1






















