Sudah cukup lama saya mantengin salah satu akun instagram yang isinya program jalan-jalan dalam kota dengan bentuk open trip. Saya pun sebenarnya pernah ikut mendaftar dan sudah membayar uang pendaftaran. Akan tetapi karena ada satu dan lain hal yang tidak bisa ditunda dan jadwalnya tabrakan akhirnya saya batal mengikuti event open trip tersebut.
Bagi saya dalam kondisi ekonomi yang sedang tidak mudah ini, pilihan jalan-jalan ke tempat dekat atau yang lebih dikenal dengan istilah Micro Traveling menjadi salah satu pilihan menarik. Yaa, gimana yaa in this economy,,,saat mau jalan-jalan ke luar kota apalagi ke luar negeri ternyata ongkos transportasi saat ini tidak bisa dikatakan murah.
Apalagi pesawat terbang tiketnya mahal, memang sih di saat-saat tertentu suka ada promo tapi huntingnya perlu effort dan tidak setiap waktu ada. Begitu pula dengan transportasi lainnya apalagi berkendara sendiri , harga BBM saat ini tidak juga termasuk murah. Akhirnya pilihan traveling ke tempat dekat menjadi pilihan.
Selain masalah budget, pilihan jalan-jalan ke daerah yang dekat juga bisa meminimalisir kerepotan karena gak banyak yang harus dipersiapkan.
Table of Contents
Mengenal Micro Traveling
Micro traveling itu sederhananya adalah liburan mini. Mengapa disebut mini? Yaa kalau menurut saya, mini disini adalah mini jaraknya dan kalau menurut saya termasuk mini budgetnya juga yaa. Jadi kalau misal saya nih pergi ke kafe yang jaraknya dekat terus makan di tempat tersebut. Kemudian saya mengeluarkan uang dengan jumlah cukup banyak. Maka bagi saya , yaa enggak masuk ke micro traveling versi saya karena tetap saja tidak menghemat budget. Boleh kaan saya membuat definisi sendiri…
Tapi kalau menurut istilah resmi dan pendapat orang pada umumnya micro traveling itu adalah liburan jarak dekat dan masih dekat dengan wilayah tempat tinggal saya. Bukan liburan yang butuh persiapan berminggu-minggu, nabung berbulan-bulan, dan perjalanan jauh berjam-jam apalagi sampai berganti hari. Tapi liburan kecil, dekat, singkat dan minim budget yang bisa saya lakukan kapan saja.
Jika saya mencerna pengertian di atas, maka sebenarnya saya sudah sering melakukan Micro traveling ini, Saya sering memilih gaya bepergian dengan konsep berlibur dalam skala kecil, jarak dekat, dan waktu yang singkat, tapi tetap memberi efek refreshing yang kurang lebih sama seperti liburan besar.
Sepertinya, istilah Micro Traveling ini mulai populer sejak pandemi, dimana saat itu orang tidak bisa pergi jauh, tapi tetap butuh jalan-jalan. Akhirnya orang sadar, ternyata untuk bahagia tidak harus ke Bali atau ke luar negeri, Cukup jalan-jalan di dalam kota juga sudah memberi kebahagiaan tersendiri. Apalagi kalau saya nih, tinggal di Sukabumi yang wilayahnya tuh luaaas banget. Jadi saya yakin banyak tempat-tempat yang bisa saya jelajahi.
Ciri Utama Micro Traveling
Micro traveling tidak sama dengan jalan-jalan yang memerlukan persiapan lengkap. Seperti saat saya mau pergi ke Eropa itu kan ribet banget persiapannya, mulai dari harus menyiapkan paspor, visa, tiket perjalanan, hotel tempat menginap, hingga saldo di tabungan yang ada nominal minimalnya, kalau gak ada sejumlah itu gak bisa tuh saya dapat visa. Seketat itu.
Naah, beda lagi dengan micro traveling. Sekilas saya sudah sampaikan di bagian atas tulisan iini. Namun biar lebih jelas saya uraikan satu-satu yaa, apa saja ciri utama micro traveling
Durasi Waktu Singkat
Traveling tipis-tipis itu biasanya durasi waktu singkat yaa. Mungkin cuma hitungan jam atau dalam kurun waktu satu hari saja. Paling lama yaa dua hari satu malam. Saya terbiasa pergi pagi, pulang sore saat traveling bersama suami di dalam kota. Naah, itu pun sudah cukup. Micro traveling memiliki ciri utama yang paling membedakannya dari liburan pada umumnya, yaitu durasi waktu singkat saja, karena liburan ini tidak dirancang untuk menghabiskan waktu berhari-hari di perjalanan. SIngkat, padat namun bermakna.
Jadi gak usah tuh sampai harus mengambil cuti panjang, tidak juga perlu menginap berlama-lama, dan repot membawa banyak barang bawaan. Namun justru karena durasinya yang singkat inilah micro traveling menjadi terasa ringan, fleksibel, dan mudah dilakukan kapan saja. Saya biasa jalan-jalan tipis itu saat akhir pekan, libur pendek atau saat tubuh mulai merasa penat dan butuh penyegaran sejenak.
Jarak Dekat
Ciri utama micro traveling adalah jarak dekat. Jadi tujuan yang akan saya kunjungi itu lokasinya di dalam kota sendiri, yaa masih di Sukabumi gitu deh. Paling sering saya pergi ke kota SUkabumi atau daerah sekitar Cibadak atau tetangganya Cibadak seperti Cicurug, Parungkuda, Caringin, CIsaat, Kadudampit dan daerah lainnya.
Biasanya perjalanan jarak dekat ini bisa dijangkau dengan motor, angkot, KRL kalau daerahnya ada di perkotaan atau bahkan dengan cukup berjalan kaki. Tidak ada drama perjalanan melelahkan. Yaa itulah yang bisa saya tangkap dari sebuah perjalanan bernama Micro Traveling.
Tapi kalau soal macet terkadang Sukabumi juara sih. Apalagi daerah Cibadak dimana saya tinggal, wuiih macetnya susah nyari lawannya deh. Tapi karena ukurannya jarak dekat yaa meskipun macet jarak tetap tak berubah kaan. Hanya saja mungkin waktu tempuh yang menjadi lebih panjang. Makanya saya mencoba meminimalisir kendala macet ini dengan memilih motor sebagai alat transportasi saat ingin traveling tipis tipis.Soalnya kalau naik motor kan bisa selap selip gitu diantara barisan mobil yang diam tak bergerak.
Skala Fleksibel dan Persiapan Minimal
Traveling tipis tipis niih yaa sangat fleksibel dan minimalis banget persiapannya. Terkadang cukup bawa diri saja dan tas kecil sudah bisa berangkat koq. Gak perlu deh geret-geret tas koper besar. Kalau saya sih cukup satu tas kecil saja isinya tuh HP, dompet dengan uang cash secukupnya saja gak usah banyak-banyak juga, skincare minimalis kek sunscreen, bedak dan lipstik. Terus perginya gimana? Yaa gak usah ribet juga, kalau micro traveling sih sendirian juga jadi, berdua sama suami, sahabat keluarga atau bareng teman dekat. Semua bisa menjadi pilihan.
Perjalanan Micro Traveling Paling Berkesan
Biasanya saya mengagendakan jalan-jalan tipis bersama suami di hari Minggu. Pernah suatu saat saya tidak hendak pergi berkunjung kemana mana, akhirnya saya memilih untuk menyusuri jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi dari ujung ke ujung. Ternyata setelah menyusuri jalan ini, saya jadi tertarik karena banyak bangunan toko bergaya lama masih berdiri dan berderet di sepanjang sisi jalan. Dari sebuah perjalanan singkat ini akhirnya menjelma menjadi satu artikel perjalanan dalam kota, sebuah artikel micro traveling.
Perjalanan ini benar-benar perjalanan singkat, berbiaya irit karena saya hanya berjalan kaki dan mampir ke beberapa toko. Memang ada sih beberapa barang yang akhirnya saya beli tapi jumlah nominalnya tidak terlalu banyak. Yaa masih ada dalam batas toleransi dompet saya hehehe.
Tapi sering juga dengan persiapan riset terlebih dahulu. Naah, biasanya ini dilakukan kalau mau touring naik motor berdua suami. Dia suka cari-cari rute dulu tuh, lewat mana mananya. Biasanya dia melihat di youtube dan google maps. Seperti saat trekking ke Cidahu dan Kadudampit. Itu kita riset rute terlebih dahulu.
Contoh Itinerary Micro Traveling
Biasanya saya mulai perjalanan sejak pagi hari. Jadi jam enam pagi tuh sama dan suami udah berangkat dari rumah, bahkan jam setengah enam sudah cabut tuh. Kalau tujuannya ke arah kota biasanya mampir dulu sarapan di Bubur Ayam Raden. Bukan promosi yaa tapi memang ini langganan saya kalau ngebubur di kota. Naah, setelah ngebubur kita lanjut ke Lapang Merdeka Sukabumi. Kami menghabiskan waktu disana dengan berjalan kaki atau lari-lari tipis beberapa keliling bisa sampai sepuluh keliling lapangan kalau lagi semangat tapi seringnya antara lima hingga enam putaran saja.
Selesai keliling lapang tuh biasanya jam sembilan pagi. Naah, setelah keliling bisa tuh ada banyak pilihan. Mau nge mall atau berkunjung ke beberapa destinasi kunjungan. Kalau saya dan suami biasanya trekking naik motor bisa ke Salabintana, Goalpara, Kadudampit via Karamat. Naah, kalau kamu mau saya bisa memberikan beberapa alternatif tempat wisata yang bisa kamu kunjungi seperti Danau Situgunung, Curug Sawer, Pondok Halimun, Kebun Teh Goalpara atau ikut kegiatan Open Trip yang sebelumnya sudah ada informasinya di instagram.
Siangnya bisa kulineran sambil makan siang. Ada banyak koq warung makan murah meriah tapi enak dan memiliki banyak langganan di Sukabumi. Next saya kasih referensinya yaa, di artikel selanjutnya.
Penutup
Bagi saya, micro traveling itu benar benar menjadi solusi perjalanan untuk mengenal kota sendiri. Kegiatan traveling menyenangkan karena hemat tak perlu biaya tiket dan hotel mahal, nggak capek karena jarak dekat, bisa intensitas sering karena dekat jadi gak butuh waktu lama kan.
At least, yang terpenting bagi saya dari semuanya adalah dengan micro traveling saya bisa mengenali kota sendiri. Mungkin banyak dari kita hafal tempat jauh, merasa bangga pernah keliling ke berbagai negara dan kota jauh tapi tidak mengenali tempat bagus di kotanya sendiri. Bagi saya, jalan jalan di lingkungan terdekat itu bukan soal seberapa jauh saya pergi tapi seberapa dalam saya bisa menikmati tempat yang dekat.
0






















