Liburan kali ini sebenarnya agak melenceng dari rencana sih. Gara-gara suami ada rapat dadakan di tempat kerjanya dan gak bisa ijin jadi aja salah satu destinasi gagal saya dapatkan. Tapi yaa sudah tidak apa-apa, toh tidak harus semua keinginan itu terpenuhi kan? Oke deh, akhirnya rencana mengisi liburan kami rombak total, gak bisa juga jauh-jauh karena waktu yang sangat sedikit hanya tiga hari saja.
Akhirnya saya jalan ke Bandung aja, salah satunya mengunjungi jalan paling estetis versi saya yaitu jalan Braga. Ada apa di Jalan Braga? Ikuti cerita saya menikmati sore di Bandung yuuk, di Jalan Braga.
Table of Contents
Yuk Ah Jalan ke Bandung
Akhirnya setelah rapat dinas maraton selama tiga hari datang juga hari libur. Yaa meskipun hanya tiga hari saja Jum’at, Sabtu, Minggu tanggal 3 sampai 5 Juli lalu, tapi lumayan laah bisa untuk refreshing sejenak.
Berhubung suami tidak bisa membersamai saat berangkat karena masih ada pekerjaan jadi saya dan teh Ula pergi duluan ke Bandung. Kami pergi di hari Jumat siang jam sebelas. Teh Ula sengaja memilih waktu agak siangan karena kami akan terus langsung menuju Braga.
Abinya menyusul sore ke Bandung, sementara anak kedua saya menyusul dari Jatinangor. Yaah begitulah jika sudah punya urusan masing-masing menuju ke satu tujuan dari tempat yang berbeda.
Sesuai dengan perkiraan, setelah empat jam perjalanan akhirnya jam tiga sore saya dan Ula tiba di Baltos. Sementara Asyfi langsung menuju Braga dari Jatinangor. Begitu tiba selepas mampir sebentar ke musala yang ada di dalam gedung Baltos, kami langsung menuju Braga menggunakan taxi online.
Tepat jam empat sore saya menjejakkan diri di perempatan Jalan Braga. Tiga puluh menit kemudian, Asyfi pun akhirnya datang dan bergabung.
Ada Apa di Jalan Braga?
Jalan ini membentang dari arah selatan menuju utara. Ujung selatan bertemu langsung dengan Jalan Asia Afrika, salah satu kawasan paling bersejarah di Bandung.
Sementara di ujung utara perlahan membawa kita menuju kawasan yang terhubung dengan Jalan Perintis Kemerdekaan dan persimpangan menuju Jalan Wastukencana serta Jalan Merdeka. Area ini dekat dengan jalur rel kereta api, Stasiun Bandung, serta kawasan Viaduct dan Jalan Suniaraja.

Ternyata benar yaa kata Ula yang bilang bahwa kalau mau menyusuri Jalan bersejarah ini enaknya tuh sore selain sudah tidak panas juga lebih ramai. Jalan yang panjangnya tidak lebih dari satu kilometer ini, semakin sore semakin ramai semakin malam semakin hidup.
Ada banyak hal yang saya bisa temukan disini dan tidak saya temui di jalan biasanya di kota Bandung. Braga memang spesial dan unik. Ada apa di Jalan Braga?
-
Jalan Braga Tidak Selebar Jalan Lainnya
Saya turun dari taxi online tepat di perempatan besar yang di tengah perempatan jalan tersebut ada sebuah tugu, kalau saya melihat di google maps tugu ini bernama Patung Maung Bandung atau tepat di simpang empat Braga.

Saya memastikan lokasi ini akurat karena ada penanda khas yaitu sebuah gedung kuno ala Vintage peninggalan Belanda yang menjadi toko dimsum yaitu Winglok Hongkong Dimsum Braga.
Jalannya tidak terlalu lebar, berbeda dengan jalan lainnya di kota Bandung. Jalan Braga ini terasa lebih sempit. Setidaknya kesan ini yang dapat saya tangkap saat menyusuri Jalan Braga. Ternyata memang benar, saat saya mencari informasi di internet lebarnya hanya tujuh setengah meter sementara jalan lainnya rata-rata lebih dari sepuluh meter lebarnya.
-
Jalan Braga Tidak Beraspal
Ada lagi yang menarik di Jalan Braga ini, yaitu permukaan jalannya tidak beralaskan aspal seperti jalan-jalan lainnya di Kota Bandung. Permukaan jalan di Braga menggunakan batu andesit.

Dengan penggunaan batu andesit sebagai permukaan jalan, saya melihat jadi semakin estetik aja penampilannya. Jalan Braga merupakan salah satu kawasan heritage di Kota Bandung jadi klop deh penggunaan batu andesit ini. Pada akhir pekan Jalan Braga dijadikan jalur khusus pejalan kaki atau car free day. Ada istilah khusus program jalan kaki di Braga ini yaitu Braga Beken (Braga Bebas Kendaraan).
-
Terdapat Terminal Parkir Elektronik (TPE)
Saat berjalan-jalan di Braga saya menjumpai beberapa benda mirip sebuah mesin yang ada di sisi trotoar. Maklum yaa saya kan orang daerah, jadi belum pernah melihat alat ini, tapi saya foto saja deh. Nanti tinggal saya tanyakan di google lens.
Naah setelah saya tanya ke google lens ternyata ini adalah Terminal Parkir Elektronik (TPE) atau biasa disebut juga dengan istilah mesin parkir meter. Oalaah jadi dengan alat ini tidak perlu lagi petugas parkir ya karena retribusi parkir di pinggir jalan sudah terkelola secara mandiri dengan mesin ini. Canggih bener yaa,,,,hehehe,,keren deh Bandung,,,,coba ada mesin ini di Cibadak kota saya. Asyik juga deh.

Bayarnya juga praktis banget tinggal menempelkan e money ke mesinnya persis seperti kalau mau naik KRL gitu kali yaa,,,. Caranya juga tidak beribet deh, pengguna cukup memasukkan no pelat kendaraannya , kemudian memilih jenis kendaraan dan menentukan durasi parkir terus bayar deh.
Tapi saya jadi kepikiran , bagaimana kalau ternyata sudah habis waktu parkir terus masih belum selesai nih jalan-jalannya, apakah harus kembali ke mesin parkir dan mengetap ulang biaya parkir? Sepertinya begitu yaa…ada yang tau atau pernah mengalaminya? Share di kolom komentar yaa,,,biar melengkapi informasi.
-
Desain Trotoar Cakep
Jalan Braga melengkapi dirinya dengan trotoar yang cakep. Desain trotoar di Jalan Braga mengingatkan saya pada trotoar di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta. Hanya saja trotoar di Jalan Braga lebih sempit dibandingkan dengan trotoar di sepanjang jalan Malioboro.

Trotoarnya dilengkapi dengan kursi-kursi estetik yang berjajar di sepanjang jalan. Selain kursi-kursi ada juga batu-batu bulat yang terpasang di sepanjang sisi trotoar. Penataannya bagus dan estetik jadi bikin betah melihatnya. Trotoar di jalan Braga menggunakan ubin granit.
Kalau saya perhatikan dengan penggunaan batu andesit di permukaan jalan dan batu granit di sepanjang trotoar makin menjadikan sepanjang Jalan Braga jadi mirip nuansa klasik di Eropa. Jalan ini juga merupakan salah satu jalan penuh sejarah di Kota Bandung. Jadi memang cocok sebagai destinasi wisata sejarah.
-
Bangunan Vintage dan Kuno
Naah, ini niih yang saya temukan di Jalan Braga selain tiga hal yang sudah saya ulas sebelumnya. Saya melihat sepanjang banyak bangunan vintage dan kuno peninggalan zaman Belanda.
Bangunan khas zaman dulu dengan fasad menawan dan detail bangunan khas Eropa masa lalu sangat terlihat jelas. Hal ini tidak terjadi tiba-tiba sih karena Jalan Braga adalah sebuah kawasan pusat gaya hidup, pusat belanja dan pusat hiburan orang Belanda di zaman kolonial dulu.


Bangunan-bangunan antik ini dibuat oleh arsitek Belanda dengan konsep gaya Art Deco dan Neoklasik. Pantas saja Bandung mendapat julukan sebagai kota Paris Van Java karena bangunan-bangunan indah ala Eropa ada di Bandung khususnya di sepanjang Jalan Braga. Jalan Braga termasuk ke dalam kawasan heritage di Kota Bandung.
-
Pilihan Kuliner Lengkap
Ada apa di Jalan Braga? Wow ternyata banyaaak banget wisata kuliner disini. Berbagai jenis wisata kuliner ada disini mulai dari rumah makan biasa, resto, kedai kopi dan cafe-cafe kekinian. Eh ada juga berbagai jenis toko kue mulai dari roti jadul hingga kue-kue masa kini.

Seperti beberapa destinasi kuliner yang sempat saya singgahi diantaranya Toko Kopi Jawa yang gedungnya vintage banget, Sambal Pecel Braga dan cafe matcha. Ulasan tempat kuliner tersebut saya bikin terpisah yaaa ceritanya. Pantengin terus blog saya. 😍😍
-
Banyak Penjual Jasa Photobooth
Seneng banget saya menyusuri jalan iconik ini, salah satunya karena banyak yang menawarkan jasa photobooth di sepanjang jalannya. Hebatnya lagi hampir semuanya ada peminatnya alias antri hehe. Saya pun bersama anak-anak akhirnya memilih satu tempat photobooth di Braga.

Jadi sistemnya tuh kita bayar dulu dengan menggunakan scan barcode QRIS kemudian setelah membayar langsung deh pilih pilih templatenya. Setelah memilih akhirnya tiba di sesi foto-foto. Akang penjualnya ikut memberi arahan gaya agar pas dan masuk semua ke dalam frame. Cekrek,,,cekrek,,,,hehehee,,,,serasa jadi foto model deh.
Setelah selesai foto-foto akhirnya kita menunggu sebentar sampai fotonya jadi. Ada dua hasil foto yang diberikan ke pembeli yaitu foto cetak dan foto dalam bentuk softfile. Oke deh,,,,mantap ada dokumentasi pernah foto di Braga deh,,,seneng banget 😍😍
-
Ada Mobil Bandros Hilir Mudik di Braga
Selama saya jalan-jalan di Braga beberapa kali melihat mobil bandros lewat hilir mudik. Oh iya jalan Braga ini satu arah yaa dari selatan ke utara atau dari arah Asia Afrika menuju ke jalan Wastukencana.
Mobil Bandros adalah singkatan dari (Bandung Tour on Bus). Mobil bus Bandros, wisata ikonik Kota Bandung ini melayani rute keliling kota. Salah satunya melewati Jalan ini dan ternyata ada shelternya juga. Tarifnya juga murah sih gak mahal hanya dua puluh ribu saja tiap satu kali perjalanan.

Bus Bandros warnanya menarik dan meriah, sayang banget saya tidak sempat menaikinya. Next saya masih ingin mengeksplornya di siang hari. Kenapa? Karena saya ingin mengunjungi beberapa destinasi wisata sejarah yang ada disini. Ada beberapa destinasi yang bisa saya kunjungi seperti Gedung asia Afrika, Resto Braga Permai, Grey Art Galeri dan Braga Citywalk.
Penutup
Tidak terasa hampir empat jam saya dan anak-anak menyusuri Braga. Sebenarnya masih betaaah hehehe,,,,tapi karena besok pagi banget masih ada agenda menanti yaa sudah kita harus pulang. Selain itu, abinya anak-anak sudah sampai di penginapan jadi kita harus segera pulang.
Empat jam penuh cerita dan memori baik tentang tempat ini. Meskipun di beberapa tempat masih ada sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, semoga kesadaran masyarakat akan lebih baik dari waktu ke waktu. Braga harus dijaga agar tetap asri dan estetik. I Love Braga😘😘






















Wuiiih jalan sore di Braga itu emang bikin betah, tapi harus waspada hati-hati gagal diet soalnya banyak kuliner endes surendes disana wkwkwk.
xixixi,,,iyaa bener banget kaak,,,,banyak makanan enak-enak di Braga niih
heheehe,,,,iyaaa nanti lupa diet
Ouww ini ternyata braga itu sejak jaman kolonial memang dikenal sebagai pusat hiburan dan perbelanjaan yaa makanya sekarang juga selalu ramai dengan berbagai tempat makan maupun butik nya…
Bandung ini masuk ke wishlist ku banget..belum pernah yang benar2 keliling bandung dulu cm semalem aja ke sini dan di kawasan ciampelas aja…itu deket gak sie sama braga ini hehe,,,
Semoga next bisa gantian liburan kesini yaa tapi kan katanya klo musim libur itu bandung full dengan lautan manusia jadi galau deh
Iyaa emang betul pas liburan Bandung itu lebih ramai sama yg lagi liburan mbaak
ke Bandungnya jangan pas liburan mbak,,,pas week day aja lebih santai
Simpangan kita Mba…saya tgl 2 ke Bandung tapi langsung balik Jakarta:)
Jalan Braga memang punya daya tarik yang tidak pernah habis, yaaaa. Setiap kali ke Bandung, rasanya selalu ingin menyempatkan berjalan kaki di sana, menikmati bangunan-bangunan tua sambil sesekali berhenti ngopi. Saya jadi kangen Bandung lagi saat baca ini hihihi dan ingin kembali menikmati suasana Braga dan tempat menarik lainnya…
Waah,,,beda iyaa yaa saya datang mbak pulang
Sebelum punya anak, saya sering jalan kaki menapaki sisi Braga kalau cuaca bagus
Setelah punya anak, lebih seringnya nongkrong di alun-alun. Haha… Secara anak lebih suka main di sana.
Di Braga tuh saya belum masuk ke tempat yang pernah disinggahi Soekarno dulu. Jadi penasaran…
Saya juga masih penasaran teh Okti,,,,belum semua tersinggahi niiih tempat-tempat di Jalan Braga
Saking vintagenya jalan Braga, harusnya di sana sudah jadi car free road. Jadi gak perlu ada kendaraan yang lewat, sehingga wisata jalan kaki jadi lebih aman dan nyaman. Anyway, enjoy Braga ya mba, dari saya yang pernah tinggal 2 tahun di Bandung 🙂
Waah mantan orang Bandung ya mbak , Iya Braga emang Vintage
Waktu ke Bandung belum sempat ke jalan Braga ini.. Padahal sudah berencana qodarullah hujan dan akhirnya kita melaju menuju Jakarta karena sudah kelelahan. Next mau kesini.
Yuuk nanti ke Braga kalau ke Bandung lagi mbak
Braga cakep ya, pantas nih jadi salah satu ikon Bandung yang terus menata diri
Sudah lama tidak menjejakkan kaki di sana, sudah banyak yang berubah, dulu ga seramai itu
Kemarin tuh pas lagi musim liburan Mbak Dy,,,jadi lebih ramai
Akutu kagum sama pegawai bus bandros..
Meski kadang sepi penumpang, mereka dengan penuh dedikasi tetap menjelaskan rute jalan dan bangunan apa saja yang bernilai sejarah di Bandung.
Sambil ber”oh oh” riaa.. kita menikmati Bandung dengan sejarah yang mewarnainya..
Apalagii.. Bandung pas syahdu yaak.. hehehe..
Naah ini dia orang Bandungnya muncul,,,hehehe,,,,Teh lendy pasti hapal banget niih seluk beluk Braga dan bandung tentu saja
Kalau di jogja ada Malioboro di bandung ada braga ya, Teh. Aku pernah juga ke jalan braga ini tapi tahun 2010 hehe sudah lebih dari 10 tahun jedanya. Kalau untukku bandung itu kota yang selalu ada di hati karena waktu kecil pernah tinggal di sana
kalau Braga sepertinya tidak banyak berubah mbak Antung,,,,soalnya banyak bangunan heritage,,,yang dilindungi
Seru banget ya, Mba. Jadi kangen Bandung dengan segala kenangan dan tempat-tempat wisatanya.
Iyaa Bandung memang ngangenin
Braga emang secakep itu. Aku pernah naik busnya. Lucu sih kalau malam ada aneka cosplay dedemit yang ngajak foto2
iyaa betul mbaa,,,ada hantu jadi jadian kalau malam
Aesthetic banget itu jalanan dan suasananya. Tahun 2014 saya pernah ke Bandung, tapi kayaknya gak main-main ke Braga, ingatnya ke Alun-Alun yang viral itu aja. Atau mungkin ke Braga, tapi sayanya gak ngeh. Hahaha