Jamu, Teman Hidup Sehat Lintas Generasi Keluarga

Jamu Dalam Kenangan Hidup

Seperjalanan usia yang sudah terbilang banyak ini, rasanya jika ada yang bertanya siapa yang sering hadir memberi kisah dalam episode hidup saya? Maka sudah pasti salah satunya adalah Mbak Jamu. Saya mengenal sosok Mbak Jamu dari sejak usia sekolah dasar. Mbak  Jamu yang selalu hadir mampir setiap pagi di teras depan rumah masa kecil saya berasal dari Wonogiri. Sebuah kota kecil yang ada di Jawa Tengah. Saya masih ingat wajahnya hitam manis dan badannya langsing sekali. Padahal anaknya itu tiga tapi perutnya rata bak artis ibukota.

Mbak Jamu itu istrinya Mas Narso abang penjual bakso keliling yang juga selalu lewat setiap malam di depan rumah. Mbak Jamu setiap hari selalu memakai kain jarik dan kain sinjang khas jawa lengkap dengan tenggok jamu yang disandangnya di belakang punggung. Tenggok jamu itu berisi botol-botol jamu diikat dengan kain carik. Menurut cerita almarhumah ibu, hingga saya melanjutkan kuliah di kota Bandung beliau masih berjualan.

Saat membuka episode kehidupan baru di Sukabumi, saya kembali tersambung dengan Mbak Jamu. Sosok Mbak Jamu yang saya temui saat anak-anak masih bayi dan balita ini usianya sudah tidak lagi muda tapi juga belum terlalu tua. Mungkin saat itu usianya sekitar 50 tahunan. Mbak Jamu yang saya temui ini penampilannya persis seperti penjual jamu yang saya kenal saat masih tinggal di rumah orang tua. Dia selalu berkebaya dan membawa tenggok jamu di punggungnya.

 

Naah saat ini saya memiliki langganan Mbak Jamu baru. Namanya Mbak Winarni. Beliau berbeda penampilannya dengan penjual jamu yang saya kenal sebelumnya. Dia tidak memakai kebaya namun baju biasa pada umumnya. Cara dia menjajakan jamu pun sudah menggunakan motor tidak lagi berjalan kaki menggendong tenggok jamu. Satu gelas jamu harganya lima ribu rupiah.

Jamu benar-benar sudah mendarah daging dalam kehidupan saya dan keluarga. Anak saya pun menyukainya. Sejak mereka kecil saya selalu mengajak anak-anak minum jamu. Suami dan anak saya yang laki-laki senang minum jamu beras kencur, sementara anak perempuan suka sekali jamu kunyit asem. Nah, saya ibunya suka jamu pahit. Bagi saya dan keluarga minum jamu setiap hari adalah sebagai upaya  menjaga kesehatan. Minum jamu adalah cara menjaga kesehatan yang menyenangkan karena rasanya enak hehe. Alhamdulillah berkat minum jamu, kami tidak mudah terserang penyakit.

Jamu dan Kekayaan Alam Indonesia

Indonesia dengan kekayaan alamnya sudah barang tentu memiliki ketersediaan tanaman obat yang melimpah. Merujuk data LIPI yang dilansir situs farmasi.ugm.ac.id menyatakan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman. Sementara itu penelitian  yang dilakukan oleh Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) seperti dilansir dari sumber yang sama bahwa  ada sekitar  sekitar 25.821 ramuan dan 2.670 spesies tumbuhan obat .  Biro Pusat Statistik menyajikan data tentang jumlah produksi tanaman obat di Indonesia tahun 2022  dan hasilnya seperti terlihat pada infografis  di bawah ini.

Melihat data di atas wajar jika tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia tinggi pada penggunaan obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit. Ketujuh jenis tanaman obat tersebut masih menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia sebagai bahan baku membuat jamu di rumah-rumah termasuk mbak-mbak jamu gendong langganan saya lho.

Jamu Sebagai Warisan Leluhur Turun Temurun

Jadi, jamu ini termasuk ke dalam salah satu dari tiga kategori obat tradisional. Menurut Permenkes No. 003/Menkes/Per/I/2010 jamu adalah obat tradisional Indonesia. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan serian (generik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Dari pengertian di atas, saya menyimpulkan bahwa jamu obat tradisional Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yaitu bersifat warisan turun temurun dan memiliki pendekatan empirik atau berdasarkan pengalaman yang diceritakan oleh para orang tua kita. Ciri khas yang melekat pada jamu ini memang benar adanya. Seperti  halnya saya yang memiliki resep jamu turunan dari ayah dan ibu dalam mengatasi beberapa penyakit. Resep tersebut saya turunkan kepada anak-anak jika mereka sakit. Ada beberapa resep dari bahan dasar tanaman obat keluarga  yang sampai saat ini masih saya gunakan dan merupakan resep warisan keluarga lho.

Jahe

Jahe adalah salah satu tanaman obat keluarga. Selain menggunakannya sebagai bumbu masak, jahe juga saya gunakan sebagai obat tradisional. Rasanya pedas memberi efek hangat dan aromanya harum, jahe sangat cocok disajikan setelah direbus dengan air. Jahe bisa juga dimakan dengan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil sebelum direbus. Jahe bisa meredakan flu dan gejala yang mengiringinya seperti batuk dan sakit tenggorokan. Caranya adalah dengan merebus jahe bersama air hingga mendidih, air rebusan jahe diminum selagi hangat.

Sumber Gambar: Canva

Manfaat lain dari jahe adalah mengatasi masalah pencernaan, mengatasi infeksi, meringankan nyeri sendi dan otot, melancarkan sirkulasi darah, membantu menurunkan berat badan, sebagai antidepresan alami dan membantu melancarkan menstruasi. Wah banyak sekali yaa manfaat jahe bagi tubuh kita. Soo, jangan lupa minum rebusan air jahe yaa secara teratur.

Oh iya, rebusan jahe ini bisa juga ditambahkan kayu manis. Resep tambahan kayu manis ini saya dapatkan dari ayah. Beliau kerap merebus jahe bersama kayu manis dan airnya diminum tiga kali sehari. Selain itu, jahe juga bisa dicampur dengan kencur, kunyit dan beras putih yang ditumbuk ditambah air dan gula lalu direbus. Maka jadilah jamu beras kecur.

Jahe termasuk ke dalam tanaman rimpang jadi jahe yang biasa kita gunakan adalah bagian akar dari keseluruhan tanaman.  Tanaman obat ini memiliki tekstur keras dan  mengandung banyak senyawa aktif seperti gingerol, zingeron, dan shogaol. Dengan bahan kandungan tersebut jahe  memberikan banyak manfaat bagi kesehatan.

Kunyit

Tanaman kunyit termasuk dalam tanaman herba. Saya sering menggunakan kunyit sebagai bumbu masak. Selain akarnya, bagian daun kunyit juga bisa digunakan sebagai bumbu masak. Oh iya, jika melihat rimpang kunyit ini saya selalu teringat almarhum ibu saya. Dia selalu memakan kunyit secara langsung seperti lalapan. Ibu saya memakan kunyit dengan cara digigit langsung lalu dimakan bersama nasi. Kata ibu saya kunyit itu enak dimakan langsung apalagi dicocol ke sambel terasi waah rasanya mantaap. Dan ini adalah resep paling sederhana tentang bagaimana cara mengkonsumsi kunyit.

Sumber Gambar: Canva

Resep kunyit kedua adalah kunyit asem. Saya rutin membeli kunyit asem dari Mbak Winarni penjual jamu langganan saya. Kunyit asem ini rasanya enak sekali. Jika diminum rutin bisa melancarkan haid lho. Di sela-sela waktu saat saya meminum jamu, Mba Winarni memberikan resep sederhana cara membuat kunyit asem. Katanya, bahan membuat kunyit asem ini tidaklah sulit cukup siapkan kunyit yang sudah dicuci bersih, gula aren, air dan asam jawa. Cara membuatnya sangat mudah, pertama haluskan kunyit bisa ditumbuk atau diblender lalu rebus bersama bahan lainnya. Setelah mendidih lalu dinginkan dan jamu tadisional Indonesia kunyit asem siap diminum.

Jangan tanyakan rasanya yaa…waah pokoknya enak banget deh.

Selain kedua resep di atas saya juga meminum ekstrak kunyit yang sudah berbentuk kapsul. Nama ekstrak kunyit itu adalah magafit. Kunyit mengandung minyak atsiri (termasuk tumeron yang menyebabkan bau khas pada kunyit), senyawa kurkuminoid (termasuk kurkumin). Dan beberapa mineral seperti zat besi, magnesium, kalsium, kalium, mangan, dan natrium. Dengan berbagai kandungan tersebut tidak heran jika kunyit mengandung banyak manfaat diantaranya menjaga imunitas, mengobati penyakit maagh, meredakan diare dan meringankan gejala nyeri saat haid bagi wanita.

Jamu Pahit

Di deretan jamu yang ada dalam botol jualannya Mbak Winarni, saya paling suka meminta jamu pahit. Jamu pahit ini menurut Mbak Winarni terbuat dari campuran sambiloto dan brotowali. Kedua bahan tersebut direbus saja dengan air, tanpa tambahan apapun sehingga rasanya pahit sekali. Saat menghidangkan jamu pahit, Mbak Winarni menyediakan juga seperempat gelas kecil air gula sebagai penawar rasa pahit. Jamu pahit ini warnanya lebih gelap dari jenis jamu lainnya.

Sumber Gambar: Canva

Jamu obat tradisional Indonesia  sudah diakui juga lho oleh dunia. Pengakuan internasional itu datang pada waktu sidang ke-18 Intergovermental Committee for the Safeguarding of the Intangible CUltural Heritage di Republik Botswana. Saat bersejarah ini terjadi tanggal 6 Desember 2023. Pada saat itu juga UNESCO resmi menetapkan Jamu sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia dan jamu adalah warisan budaya tak benda ke-13 yang masuk dalam daftar UNESCO. Saya rasa memang sudah selayaknya UNESCO memberikan penetapan tersebut karena jamu adalah warisan leluhur bangsa. Hal ini diperkuat oleh adanya relief tentang budaya jamu di Candi Borobudur dan manuskrip kuno.

Pemerintah Indonesia pun mengakui jamu sebagai aset budaya bangsa dengan ditetapkannya Hari Jamu Nasional di setiap bulan Mei tepatnya tanggal 27 Mei. Selamat memperingati “Hari Jamu Nasional”. Semoga jamu tetap menjadi warisan budaya kebanggaan masyarakat Indonesia. Minum Jamu obat tradisional Indonesia Yuuu…udah sehat enak lagi…

 

Referensi Bahan Bacaan:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NjMjMg%3D%3D/produksi-tanaman-biofarmaka–obat-.html

https://farmasi.ugm.ac.id/id/menelisik-produk-jamu-indonesia-untuk-mendunia

https://doi.org/10.18051/JBiomedKes.2021.v4.130-138

https://iai.id/uploads/libraries/Permenkes_No.003_thn_2010_ttg_Saintifikasi_Jamu_dalam_Penelitian_Berbasis_Pelayanan_Kesehatan.pdf

https://geograf.id/jelaskan/pengertian-jahe-dan-manfaatnya/

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/776/si-kuning-kunyit-kaya-manfaat

https://kemlu.go.id/darwin/id/news/27480/unesco-resmi-menetapkan-jamu-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-dari-indonesia

https://www.liputan6.com/regional/read/5605009/sejarah-hari-jamu-nasional-yang-diperingati-setiap-27-mei-simak-segudang-manfaat-jamu#google_vignette

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 Shares:
16 comments
  1. Wah sama mbak, aku dari kecil udah langganan mbak Jamu. Kalau dulu digendong yaa sekarang pakai motor. Aku lebih suka beli dibanding bikin sendiri, hehe. Minum jamu setiap hari bikin badan sehat, apalagi saat menstruasi, ahhh itu jadi seger banget ke badan.

  2. Aku justru kenalnya sama jamu pas usia 4 tahun, saat itu aku susah banget disuruh makan akhirnya dijasih jamu cekok yang bahannya ada kandungan temulawak biar meningkatkan nafsu makan. Rasanya jangan tanya, pahit pok, makanya cara minumnya dipaksa buat menganga. 😆

  3. Dulu tim beli jamu, pas masa pandemi belajar bikin sendiri dari jahe, kunyit, kencur, serai, dan lain-lainnya. Asli seger dan rasanya bisa menyesuaikan kalau buat sendiri

  4. Saya suka jamu juga mbak, kunyit asam yang paling saya suka. Dulu mengenal jamu untuk pertamakalinya adalah paitan yang dibikinin simbah, saat saya haid pertama. Setelahnya suka beli parem, enak rasanya. kalaus ekarang sukanya bikin sendiri.

  5. Sedih banget di tempatku jarang yang ada jual jamu keliling. Ada mba mba jual jamu tapi tidak setiap hari lewat. Andai gaya hidup minum jamu terus berlangsung, kita bisa sehat selalu Insha Allah. Jamu tuh ga diragukan lagi manfaatnya

  6. Pas kecil suka minum jamu.. Habis lahiran dulu juga masih suka minum jamu..ternyata banyak manfaatnya ya minuman tradisional khas Indonesia ini

  7. Jamu jamu jamu, jamune jamu gendong. Jamu kesukaanku beras kencur, kunir, kunir asem. Senang dan bangganya jadi orang Indonesia, karena yang satu ini bisa jadi warisan budaya juga.

  8. Sebenernya aku juga ga asing ama jamu mba. Krn mama ku penggemar jamu bangettttt dr zaman gadis. Jd sesekali aku coba minum, terutama yg kunyit asam, ama beras kencur.

    Kalo yg pahit memang ga selalu. Masih lebih suka yg biasa aja rasanya, jgn pahit banget hahahahah

    Sayangnya di deket rumahku ga ada lagi mbok jamu lewat. Dulu pernah pas mudik ke kampung suami di solo, nginep dj novotel, eh di lobby nya ada jual jamu. dan itu enaaaaaak bgttttt. Kunyit asem nya segeeer. Sayang jauh.

  9. mau jamu pahit atau enggak, saya tetap suk. Tapi kalau jamu pahitnya kebangetan mending sekali saja deh, minumnya. Hahahaha. KArena jamu lebih ramah di badan, ketimbang obat. Biasanya, orang terdahulu lebih menyarankan jamu ketimbang obat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like