Review Film Eyang Ti: Mengurai Konfllik Menantu Vs Mertua

Review film eyang Ti

Akhir pekan itu adalah hari paling menyenangkan buat saya. Hari libur tidak masuk kantor dan ini artinya ada waktu bebas buat saya mengerjakan hal lain yang menyenangkan. Hari libur saya ngapain aja sih? Biasanya memasak, menulis, membaca, jalan dan menonton film di Netflix sambil rebahan. Setelah scrolling beberapa film akhirnya pilihan saya jatuh pada satu judul yaitu Eyang Ti. Oke di artikel ini saya akan bahas review film Eyang Ti yaa…tentunya dari sudut pandang saya.

Konflik Dalam rumah Tangga

Konflik dalam keluarga masih menjadi tema primadona di dunia perfilman Indonesia. Konflik yang ada dalam sebuah keluarga tidak selalu bersumber dari sesama anggota keluarga itu sendiri. Tidak jarang sumber konflik melibatkan pihak luar keluarga inti. Salah satu konflik yang melibatkan anggota keluarga di luar keluarga inti adalah antara mertua dan menantu. Dan di kehidupan nyata konnflik menantu vs mertua adalah yang paling banyak terjadi.

review film
SUmber : https://www.youtube.com/watch?v=RxbmrNrFq9s

Konflik mertua vs menantu ini lebih banyak terjadi antara menantu perempuan dan mertua perempuan. Ternyata hal ini didukung dengan hasil penelitian Utah State University dalam Jurnal Psikologi Islam Psikoislamika bolume 8 no 1 tahun 2011 yang menyatakan bahwa 60% pasangan suami istri mengalami ketegangan hubungan dengan mertua, yang biasanya terjadi antara menantu perempuan dengan ibu mertua (Sweat,2006). Kenyataan ini menjadi sebuah tema yang diangkat dalam film yang berjudul Eyang Ti.

Saya menonton film Eyang Ti di kanal film Netflik. Film yang diperankan oleh Widyawati, Irgy Ahmad fahrezy, Beby Tsabina dan Widi Dwinanda ini diproduksi tahun 2021. Film ini disutradarai oleh Herwin Novianto dan diproduksi oleh KlikFilm. Review film Eyang Ti memang seru  karena filmnya juga ceritanya bagus.

Daya tarik cerita dalam film ini terletak pada konflik-konflik yang terurai antara mertua vs menantu. Dalam film ini kisah utama terjadi antara Adi, Ratna, Nares dan Bu Murti. Adi dan Ratna adalah sepasang suami istri. Nares adalah anak dari Adi dan Ratna. Bu Murti adalah ibunya Adi atau ibu mertuanya Ratna.

Konflik seolah terjadi tiga lawan satu. Ratna berhadapan dengan Suami dan anaknya juga ibu mertua. Mmeski sebenarnya yang menciptakan konflik itu sendiri adalah Ratna. Ibu Mertua sama sekali tidak memusuhi Ratna. Namun Ratna sangat tidak menyukai ibu mertuanya. Mengapa hal ini terjadi? Jika ditelisik lebih jauh ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinya konflik tersebut, diantaranya:

Adi dan Ratna tidak bisa memiliki anak karena Ratna sudah dua kali keguguran sehingga bila dipaksakan hamil maka akan membahayakan jiwanya. Kondisi ini sangat memberikan rasa sedih pada Ratna karena tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya.

Namun, ternyata ada juga yang merasa kecewa dengan kenyataan ini yaitu Eyang Murti ibunya Adi dan ibu mertuanya Ratna. Eyang Murti kecewa dan mengungkapkan kekecewaan tersebut kepada Adi bahwasanya dengan kondisi seperti ini berarti garis keturunannya akan berhenti. Kondisi ini tidak lepas dari posisi Adi sebagai anak Tunggal.

Tanpa disadari oleh Eyang Ti ternyata perkataannya terdengar oleh Ratna. Sebenarnya Eyang Ti tidak menyangka dan sangat emrasa tidak enak pada menantunya karena mendengar perkataannya. Ratna sedih dan kecewa. Ada kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan yang ada. Hal ini menjadi sebab kerenggangan diantara menantu dan mertua ini.

Di satu sisi Ratna merasa kecewa ibu mertuanya tidak bisa menerima keadaannya dan di satu sisi Eyang Ti merasa kecewa karena dari menantunya tidak bisa ada penerus keluarga. Meskipun pada akhirnya ada juga anak diantara mereka dengan hadirnya bayi angkat di keluarga yang diberi nama Nareswara. Nama pemberian ibu mertua Ratna

  • Ketidakmampuan Mengungkapkan Perasaan

Kekesalan dan kemarahan yang terpendam sekian lama tidak pernah bisa dikemukakan dengan tuntas. Kondisi tersebut akhirnya memberikan dampak sikap yang tidak bersahabat dari menantu  kepada mertua. Berbagai kekesalan yang menumpuk hanya bisa disimpan dan dipendam tanpa mampu menyampaikannya dengan baik.

Berbagai masalah yang menyergap diantara mereka. Meskipun sebenarnya bisa jadi hanya anggapan dari salah satu pihak saja. Ketidakmampuan mengungkapkan perasaan Ratna kepada ibu mertua dari hati ke hati menjadi penyebab berbagai konflik yang terjadi. Salah satu kasus penyebabnya adalah saat ibu Adi memberi nama, Ratna merasa yang paling berhak memberi nama adalah dia atau suaminya bukan ibunya.

  • Gap Generation

Umur dan pengalaman yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan dalam karakter dan kebiasaan. Suatu hal yang dianggap penting oleh mertua bisa saja dianggap biasa oleh menantu. Atau bisa saja terjadi sebaliknya, hal yang dianggap biasa saja oleh mertua justru dianggap penting oleh menantu.

Pola pendekatan kepada Nareswara pun berbeda. Sehingga menimbulkan berbagai kecemburuan dalam diri Ratna. Dia merasa perannya sebagai istri dan ibu tersingkirkan oleh keberadaan ibu mertuanya tersebut. Ada stigma yang mengatakan bahwa seorang perempuan akan lebih sayang pada cucunya ketimbang pada anaknya. Mungkin hal ini berlaku dalam diri Eyang Ti yang sangat menyayangi Nares.

  • Pandangan Tentang Panti Jompo

Panti Jompo identik dengan pandangan negatif tentang menelantarkan orang tua. Berbagai perasaan negatif menghampiri Adi dan Ratna meskipun dalam sudut pandang yang berbeda. Bagi Adi adalah sebuah dosa menempatkan ibunya di panti jompo dia merasakan sebagai anak durhaka. Sementara Ratna merasa malu dan takut pandangan negatif dari orang-orang jika tahu ibu mertuanya dikirim ke panti jompo.

Konflik meruncing timbul diantara istri dengan anak dan suami. Ibu mertua meskipun sedih namun cenderung lebih menerima. Adi dan Nares sebal kepada Ratna karena seolah menghalangi mereka untuk berkunjung ke  panti jompo menemui Eyang Ti.

  • Komunikasi yang Terhambat

Ada saluran komunikasi yang terhambat diantara ibu mertua dan menantu. Hal ini merembet pada keterhambatan komunikasi antara ayah-ibu dan anak. Kalau menurut saya semua menyumbang akar konfliknya masing-masing. Meskipun ibu mertua tidak bermaksud untuk menyakiti hati menantunya tapi karena sudut pandang yang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan persepsi.

Review Film Eyang Ti
sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=RxbmrNrFq9s

Secara kasat mata memang terlihat menantunya yang lebih dominan menampilkan sikap yang frontal dan terkesan memulai perselisihan. Perselisihan yang ditimbulkan bukan hanya dengan mertua namun juga dengan suami dan anaknya. Sang istri merasa tidak ada yang membela dirinya.

  • Pesan Yang Hadir di Film Eyang Ti

Ada beberapa point yang bisa saya catat dalam review  film Eyang Ti ini, yaitu:

  1. Saling mengerti dan memahami satu sama lain
  2. Menurunkan ego dan berani memaafkan
  3. Menikah itu satu paket bukan hanya dengan suami, namun ada orang tuanya yang sudah ikhlas melepas anaknya untuk menikah dengan orang lain yang akan menjadi istrinya. Oleh karenanya hormati dan cintai mereka seperti kepada orang tua kandung.

Bagaimana akhir kisah film Eyang Ti ini? Buat yang sudah menonton filmnya mungkin bisa menjawabnya yaa…Jika belum menontonnya tebak deh akhirnya bagaimana..hehe..selamat menonton yaa…

Detail Info Film:

Sutradara         Herwin Novianto

Produser          Agung Haryanto

Ditulis oleh     Lottati Mulyani

Herwin Novianto

Pemeran          Cut Beby Tshabina sebagai Nares

Widyawati sebagai Eyang Murti

Irgi Fahrezi sebagai Adi

Widi Dwinanda sebagai Ratna

Edbert Destiny sebagai Damar

Yorda Emily sebagai Oma Reta

Astriati sebagai Oma Linda

Sri Hartini sebagai Bu Amari

Babe Ucup sebagai Opa

Vania sebagai Perawat Cewek

Bu Siti sebagai Bibi

Sinematografer: Gunung Nusa Pelita

Penyunting: Febby Gozal

Perusahaan produksi: KlikFilm Productions

Distributor: KlikFilm

Tanggal rilis: 17 Desember 2021

Durasi: 80 menit

Negara: Indonesia

Bahasa: Bahasa Indonesia

0 Shares:
14 comments
  1. jadi penasaran endingnya nih. cerita yang ga akan habis untuk diceritakan ya, intinya terletak pada komunikasi, beda generasi ini membuat semakin sulit untuk komunikasi

  2. Kalau dari sisi menantu aku paham sih gimana perasaan Ratna. Mungkin bagi mertua itu hal biasa, tapi bagi menantu terlihat seperti mertua yang terlalu otoriter, kalau mau memberi nama sebaiknya hanya berupa saran saja haha. Mertua sebaiknya tidak perlu mencampuri urusan rumah tangga anak dan menantunya. Kejam ya. Tapi setidaknya begitulah yang dirasakan menantu perempuan. Dia ingin menjadi ratu di rumahnya sendiri. Hmm kayak apa ending cerita Eyang Ti? Pinisirin

  3. Memang agak sensitif, tapi membicarakan soal anak perlu didiskusikan lebih dulu sebelum menikah. Mendiskusikan dengan calon pasangan dan juga penting mendiskusikannya dengan orang tua juga calon mertua. Karena memang kita nggak pernah tahu bagaimana masa depan menentukan takdir. Aku jadi penasaran sama filmnya karena konfliknya lumayan kompleks dan penasaran ending dari cerita ini bagaimana

  4. film ini bisa jadi hikmah besar buat para menantu ya mbak. apapun kondisinya, menantu tetap harus menghormati mertua. Btw, mbak Heny langganan di Netflix, sudah lama kah mbak ?

  5. Tema-tema yang diangkat di film-film Netflix lumayan sensitif tapi memang relate dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti halnya film Eyang Ti ini.
    Semoga penikmat film-film Netflix bisa mengambil hikmah dari Eyang Ti dan menjadikan pelajaran untuk memperbaiki hubungan keluarga, terutama yang sedang mengalami konflik mertua menantu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like