Kalau kamu pernah jalan-jalan ke Sumatera Barat, pasti nama Jam Gadang di Bukittinggi udah sering banget terdengar. Setidaknya jadi wishlist kunjungan deh, kalau main ke Bukittinggi. Nah, saya mau cerita sedikit dari sudut pandang saya tentunya tentang ikon satu ini. Kebetulan suami saya pernah berkunjung kesana dan cerita tentang perjalanannya. Jadi tertarik juga deh buat menulisnya. Jam Gadang itu bukan sekadar menara jam biasa, tapi sudah jadi ikon wisata Bukittinggi. Jam Gadang dengan bangunan menjulang tinggi dan arsitektur khas Minangkabau yang unik.
Buat masyarakat Minangkabau, Jam Gadang itu lebih dari sekadar penunjuk waktu. Ia punya nilai simbolis budaya kuat dan menjadi pusat kegiatan masyarakat. Jam Gadang ini juga punya magnet luar biasa bagi wisatawan. Buat para pelancong yang datang ke sini, Jam Gadang adalah destinasi wajib saat ke Bukittinggi. Nggak heran, karena selain megah, tempat ini punya cerita sejarah yang panjang sejak zaman kolonial Belanda. Jadi, kalau kamu main ke Bukittinggi, jangan melewatkan untuk mampir ke Jam Gadang Bukittinggi ikon wisata dan sejarah Sumatera Barat yaaa.
Sejarah Jam Gadang: Ikon Wisata Bukittinggi
Pemerintah kolonial Belanda membangun Jam Gadang Bukittinggi antara tahun 1925 hingga sekitar tahun 1927 sekitar 2 tahun yaa masa pembangunannya. Lumayan lama juga. Hendrik Roelof Rookmaaker seorang sekretaris kota Bukittinggi memprakarsai bangunan yang pada masa tersebut yang dikenal dengan nama Fort De Kock. Jam gadang sendiri merupakan pemberian dari Ratu Belanda masa tersebut yaitu Ratu Wilhelmina. Istimewa sekali ternyata yaa jam gadang ini merupakan pemberian Ratu Belanda.
Desain Bangunan dan Arsitektur
Seorang arsitek lokal yang bernama Yazid Rajo Mangkuto dan Haji Moran serta St. Gigi ameh membuat desain bangunan Jam Gadang. Mereka bertiga adalah penanggung jawab, pelaksana pembangunan dan mandor pendirian Jam Gadang Bukittinggi.
Jadi, ternyata saat pertama kali selesai pembangunan bangunan Jam gadang tidak seperti saat ini penampakannya. Jam Gadang yang kamu lihat saat ini merupakan hasil perombakan ketiga dari desain bangunan awal. Saat pertama dibangun, Jam Gadang ini bentuk atapnya itu bulat lho dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur.

Kemudian pada masa pendudukan Jepang mengalami perubahan lagi menjadi serupa kuil shinto. Yaa, wajar yaa namanya juga penguasa saat itu beragama Shinto jadinya mengikuti keinginan penjajah. Barulah pada tahun 1953 saat Indonesia sudah merdeka Jam Gadang berbentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau seperti terlihat pada saat ini. Unsur perpaduan antara desain Eropa dan tradisi minang lokal tersaji dalam keindahan bangunan Jam Gadang. Jam Gadang memiliki tinggi bangunan 27 meter sementara jam nya sendiri berdiameter 80 cm pada empat sisinya.
Peran Jam Gadang Sejak Masa Kolonial Hingga Kini
Jam Gadang Bukittinggi memiliki peran penting di masa kolonial hingga setelah kemerdekaan. Saat ini selain sebagai penunjuk waktu bagi masyarakat umum, kamu juga bisa tahu bahwa Jam Gadang memiliki fungsi penting lainnya yaitu pos pengamatan terutama dalam kondisi darurat seperti saat kebakaran melanda pasar Ateh. Pada zaman kolonial , Jam Gadang ini ternyata sebagai simbol perayaan 100 tahun kota Bukittinggi. Jadi Ratu WIlhelmina memberikan Jam gadang sebagai hadiah ulang tahun kota ini.
Baca juga: Prague Orloj, Jam Bersejarah di Dunia
Pada masa kemerdekaan, saat pemerintah mengumumkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 , para pejuang mengibarkan bendera merah putih di menara puncak Jam Gadang. Pejuang lokal bernama Mara Karma naik ke puncak menara dan mengibarkan bendera dari sana. Selain momen bahagia , ternyata ada juga momen menyedihkan pada zaman masa pemberontakan PRRI dimana terjadi pertempuran antara TNI dan pemberontak. Banyak korban gugur saat itu. Tempat pertempuran berlokasi di sekitar Jam Gadang.
Pada masa kini, Jam Gadang menjadi ruang publik yang menyenangkan. Apalagi tahun 2018 pemerintah kota Bukittinggi merenovasi Jam Gadang ini secara besar-besaran dengan total biaya yang dihabiskan sekitar 16 milyar. Pemerintah kota menambahkan fasilitas umum disini setelah renovasi seperti air terjun warna-warni, toilet dan bangku-bangku taman yang nyaman.
Struktur Bangunan Jam Gadang
Pernah nggak kamu penasaran, apa sih yang menjadikan Jam Gadang ini unik dan detail menarik apa yang dimilikinya sehingga berbeda dengan jam lainnya? Jadi gini, bangunan setinggi 27 meter ini punya struktur unik dan khas banget. Jam Gadang itu bentuknya kotak dan berdiri tegak di atas pondasi kokoh.
Naah, yang bikin saya kagum ternyata bahan bangunan dibuat tanpa semen dan besi lho, terus terbuat dari apa donk? Ternyata cuma dari campuran kapur, pasir putih, sama putih telur. Kebayang nggak, zaman dulu udah bisa bikin bangunan sekokoh ini dengan bahan sederhana? Tapi saya jadi ingat penjelasan tentang bahan bangunan pada zaman Belanda waktu saya berkunjung ke Museum Gedung Sate, disana juga sama bahan bangunannya berbeda dengan bahan pada umumnya.
Menara Jam Gadang ini bercat warna putih dan memiliki empat lantai. Naah ini dia rincian masing-masing lantainya, lantai dasar dulu dipakai buat pos penjaga, lantai kedua jadi tempat mesin penggerak jam, lantai ketiga ada ruang lonceng atau mesin jam, dan lantai paling empat alias lantai terakhir jadi tempat jam raksasa yang menghadap ke empat arah mata angin.
Detail Menarik Pada Bagian Jam
Nah, jamnya sendiri berdiameter 80 cm, dibuat langsung di Jerman. Mesin jam yang ada di Jam Gadang ini hanya diproduksi sebanyak 2 unit lho satu lagi ada di Menara jam Big Ben London Inggris. Waah kereen banget deh. Kamu juga harus tahu nih, ternyata mesinnya itu digerakkan secara manual sampai sekarang lho nggak pake listrik!
Beratnya sekitar 136 kilo, tapi tetap berfungsi dengan baik meski usianya sudah hampir seabad. Tidak heran deh , dengan fakta ini, menjadikannya salah satu jam mekanik bersejarah di Indonesia. Bahkan di dunia deh kalau menurut saya, mengingat limited edition banget nih mesin jamnya.

Yang paling khas banget saat melihat penampakan jam Gadang adalah angka Romawi di jamnya beda dari biasanya. Kalau angka empat biasanya ditulis IV kan yaa, naah kalau di Jam Gadang ditulis setelah angka III yang seharusnya ditulis IV malah kembali ditulis angka IIII. Kenapa yaa bisa begitu? Ada yang tahu? Bentuk atap khas minangkabau yang runcing ke atas, makin menegaskan kalau Jam Gadang bukan cuma penunjuk waktu, tapi juga simbol budaya Minang yang kuat.
Jam Gadang Sebagai Ikon Wisata
Kalau saya bicara soal ikon wisata di Sumatera Barat khususnya Bukittinggi, nama Jam Gadang pasti langsung muncul tuh di pikiran kamu. Jam Gadang ini sudah menjadi simbol kebanggaan masyarakat sekaligus daya tarik wisata yang legendaris. Lokasinya sangat strategis lho berada di Jalan Istana, Kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, tepat di jantung kota yang selalu ramai oleh aktivitas warga dan wisatawan.
Jam Gadang dengan posisinya sebagai ikon wisata Bukittinggi tidak pernah sepi pengunjung. Area sekitarnya sudah nyaman bangeet soalnya ditata menjadi taman kota yang bikin betah tah tah tah hehehe. tempat warga main dan menghabiskan waktu dan sudah pasti pengunjung yang berfoto-foto di sekitar jam gadang ini. Disini juga masyarakat banyak melaksanakan kegiatan baik itu perayaan budaya dan kegiatan lainnya.
Penutup
Jadi, kalau kamu singgah ke Sumatera Barat tepatnya ke Bukittinggi jangan lupa mampir ke sini. Jam Gadang ikon wisata Bukittinggi adalah sebuah sejarah, budaya, dan pariwisata dalam satu bangunan bersejarah. Kalau kamu berkunjung ke Bukittinggi tanpa singgah di Jam Gadang rasanya seperti laut tanpa garam hehe kurang lengkap deh!
Sumber referensi bahan bacaan artikel
https://pusdigi.bukittinggikota.go.id/article/detail/2 diakses tanggal 28 agustus 2025
https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Jam_Gadang diakses tanggal 28 Agustus 2025
https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/jam-gadang-monumen-kebanggaan-kota-bukittinggi diakses tanggal 28 Agustus 2025
https://www.instagram.com/reel/DNzbBuAXofD/ diakses tanggal 28 Agustus 2025.
https://www.instagram.com/sudutbukittinggi/ diakses tanggal 28 Agustus 2025.