Potret Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Pada Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis

Review Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis

“Kamu ngapain nangis-nangis, Saya minta kamu stop nangisnya” Teriakan dan cacian terdengar jelas bersamaan dengan suara piring dan barang pecah belah lainnya  dibanting

 

Isu KDRT Di Sekitar Kita

Cuplikan di atas menjadi pembuka adegan dalam film Bolehkan Sekali Saja Kumenangis. Film ini seolah menjadi potret kehidupan nyata. Banyak sekali berita dan kisah di media sosial yang menceritakan tentang kisah kekerasan dalam rumah tangga. Berita terakhir yang saya ikuti adalah tentang seorang suami yang membakar istrinya di Indramayu karena tersulut api cemburu. Kekerasan ini mengakibatkan sang istri kritis di Rumah Sakit. 

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) seolah menjadi momok yang menakutkan di kalangan perempuan sehingga memunculkan slogan yang cukup viral di kalangan anak muda yaitu Married Is Scary. Padahal pemerintah sudah serius lho menangani hal ini buktinya ada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga serta berbagai upaya lainnya  guna mendukung penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Tapi memang selalu saja ada terjadi  di masyarakat kasus KDRT ini. Sepertinya realisasi dari pelaksanaan UU tersebut masih kurang maksimal.

KDRT bisa terjadi pada semua kalangan baik yang ekonominya rendah maupun atas, pendidikannya rendah atau tinggi dan bisa terjadi pada usia pernikahan  berapa pun. Perlu keberanian dari seorang perempuan bisa melepaskan diri dari jerat KDRT yang menimpanya. 

Bolehkah Sekali Saja Kumenangis, Film Yang Mengangkat Isu KDRT

Film ini mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga. Seorang suami yang melakukan kekerasan verbal dan fisik kepada istri dan anaknya. Film yang dirilis pada bulan September 2024 ini banyak menguras sisi emosi saya. Rasanya sebagai seorang perempuan saya seolah ikut merasakan apa yang dialami oleh Tari dan ibunya. 

Dalam film ini Ibu dan Tari mengalami beberapa bentuk KDRT mulai dari kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan verbal bahkan hingga kekerasan finansial. Ayahnya Tari ini pelitnya minta ampun segala hal diperhitungkan. Kalau menurut saya sih ini sudah masuk ke dalam bentuk kekerasan finansial. Gila yaa, ada orang sakit jiwa seperti ini membuat anak dan istrinya seperti hidup di neraka.

Dampak Emosional dan Psikologi Pada Korban KDRT

Sosok penggambaran peran Tari dan sang ibu yang menerima KDRT di sebagian besar waktu hidupnya telah memberikan dampak trauma yang luar biasa. Untungnya dalam cerita film ini sang pemeran utama mendapatkan tempat yang pas untuk memulihkan traumanya. 

Sementara bagaimana dengan perempuan-perempuan di dunia nyata yang mendapatkan kekerasan dari pasangan hidupnya yang seharusnya menyayangi dan melindunginya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak ada yang menolong mereka? Banyak kisah nyata saya dengar dan saksikan baik di kehidupan nyata maupun di media sosial, akhirnya apa? Akhirnya perempuan-perempuan ini stress, bunuh diri atau membunuh suaminya sendiri dan berujung depresi. 

Berapa banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Mereka bekerja banting tulang sementara suaminya adalah kategori laki-laki mokondo. Atau jika pun bekerja, mereka tidak peduli pada kebutuhan rumah tangga dan santai saja tidak memberikan nafkah yang cukup pada keluarga karena merasa istrinya sudah bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Akhirnya apa? Banyak wanita-wanita yang mengalami kelelahan lahir batin luar biasa. Saya menghela nafas panjang saat melihat kenyataan itu semua. 

Laki-Laki Sok Kuasa 

Sosok ibunya Tari yang selalu mengalah dan tidak berani membuka ruang diskusi menurut saya sih salah yaa. Budaya patriarki di Indonesia ini memang kental sekali. Pandangan bahwa laki-laki itu memiliki kewenangan penuh dalam hal mengambil keputusan padahal istri adalah partner penentu kebijakan juga. Perempuan itu harus tunduk dan patuh apapun maunya suami wajib dituruti tanpa suami memberi ruang untuk mendengar maunya istri. Aduh kasihan ya istrinya kalau begini sih. Di film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis ini seolah kekerasan terhadap perempuan adalah urusan intern rumah tangga. Suami berhak terhadap istri sepenuhnya dalam arti mau diapain juga ya gak masalah karena itu hak suami. 

Namun, saya sih melihat ada penyebab lain mengapa  ayahnya Tari berlaku toxic seperti ini yaitu tidak terlepas dari pengalaman masa lalunya dimana dia dibesarkan dengan pola yang sama dengan apa yang diterapkannya pada istri dan anaknya. Dan di kehidupan nyata pun saya melihat ada seorang ayah yang galak banget sama anaknya dan ternyata setelah ditelusuri dia waktu kecil hingga dewasa selalu mendapat KDRT dari ayahnya. Jadi ternyata pola asuh dan perlakuan orang tua di masa kecil akan banyak berpengaruh pada pola asuh di keluarga jika kelas yang bersangkutan menikah dan memiliki keluarga.

Jadi kalau saya sih melihatnya dalam film ini sosok laki-laki sok kuasa,  bagaimana si ayah ini menggunakan kekuasaannya untuk melakukan perilaku kekerasan terhadap istri dan anaknya  yang tidak bisa melawan dan membela diri.

Review Film

Sebuah film yang diperankan oleh Prilly latuconsina sebagai Tari dan Pradikta Wicaksono sebagai Baskara ini sarat dengan permainan yang mengaduk emosi. Menurut saya sih ini termasuk film yang tidak bisa dibawa santai menontonnya karena yaa penuh konflik. Dari awal cerita hingga menjelang akhir merangkaikan konflik demi konflik dalam rumah tangga. Tari dan Baskara sama-sama pergi dari rumah karena alasan yang berbeda. Tari karena mendapat perlakuan KDRT dari sang ayah sedangkan Baskara menjadi pelampiasan ambisi orang tua yang menyiksanya lahir batin. 

Mereka dipertemukan dalam satu kantor yang sama dan memiliki kesamaan nasib. Sama-sama mendapat kekecewaan dari orang tua khususnya ayah.Untungnya mereka berdua menemukan sebuah komunitas  kesehatan mental yang memiliki tujuan untuk menyembuhkan luka-luka trauma yang sedang dihadapi dalam kehidupannya. Sebuah penyelesaian masalah yang tepat kalau menurut saya. 

Sebuah acungan jempol saya berikan pada Tari karena pada akhirnya dia berani mengajak sang ibu keluar dari rumah dan memilih tinggal di sebuah tempat rahasia. Ayah Tari mencari anaknya kemana-mana, semua tempat yang memungkinkan ada Tari dia datangi. Meskipun pada akhirnya tidak ada yang membuahkan hasil. 

Ibu Tari adalah sosok wanita yang kalau menurut saya sih maaf-maaf yaa agak tidak bisa berpikir logis. Pikirannya seringkali dikalahkan oleh emosi dan perasaannya. Mungkin ini yang dinamakan cinta yaa, dan saya kembali berpikir ke dunia realita. Nyatanya banyak koq di luaran sana wanita dan perempuan seperti ibunya Tari ini. Sudah tau disiksa-siksa, sudah tau diberi penderitaan ngalah aja tidak berani pergi dengan alasan keutuhan rumah tangga dan kasihan anak. Lebih baik disiksa siksa daripada meninggalkan. 

Sekalinya mau diajak pergi sama Tari eh, malah kembali menghubungi ayahnya. Ya sudah akhirnya kembali disandera di rumah neraka itu. Syukur alhamdulillah akhirnya sang ibu sadar dan mampu berpikir logis. Sang ayah hanya melongo tak percaya kalau istrinya berani memutuskan untuk meninggalkannya dengan sepenuh kesadaran.

Nah, sampai disini masih banyak pertanyaan-pertanyaannya kan? Bagaimana nasib sang ayah setelah ditinggal istri dan anaknya? Apakah dia akan tetap seperti itu atau bertaubat? Lantas bagaimana pula dengan nasib Baskara? Apakah dia juga akan kembali pada keluarganya? Atau memutuskan untuk tetap memisahkan diri tak mau tinggal bersama orang tua? Eh  terus gimana tuh hubungan Tari dan Baskara, apakah hanya cukup sekedar teman taua berlanjut ke hubungan serius? Ah saya gak mau spoiler lagi. Cukup yaa…wkwkwkw….Yuhuuu….seru lho ceritanya. Jadi kamu nonton sendiri yaa filmnya….

Apalagi dengan soundtrack lagu yang mengiring film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis  yaitu sebuah lagu dari Feby Putri feat Fiersa Besari yang berjudul Runtuh.  Uuuhhh…..benar-benar deeh sangat-sangat pas dengan situasi dan kondisi emosi dalam alur cerita film ini.

Detail Film

Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis termasuk film baru karena diproduksi tahun 2024 dan disutradarai oleh Reka Wijaya. Film yang mengangkat tema KDRT ini. Setelah tayang di bioskop kamu bisa melihat tayangan filmnya di saluran Netflix.

Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis

 

Film ini mendapatkan apresiasi di banyak festival film nasional karena terdapat penggambaran secara dalam terhadap KDRT dan mengangkat pesan pentingnya seseorang yang mengalami trauma KDRT mendapat dukungan secara psikologi untuk memulihkan kesehatan mentalnya. 

Kelebihan dan Kekurangan Film

Haduuh setelah selesai menonton film ini dari awal hingga akhir saya pun menghela nafas panjaaang. Ya Tuhaan, hidup ini bukan hanya melulu tentang sebuah rasa bahagia namun juga menjadi  ladang ujian bagi setiap manusia.  

Kelebihan Film

Penulis skenario dan sutradara serta para pemain film yang terlibat dalam film ini sukses menyentuh sisi emosional dan hati saya saat menonton film ini. Temanya sedih sih dan mengangkat perjuangan seorang perempuan yang tidak mau menyerah dengan keadaan yang sedang dialaminya yaitu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ayahnya berupa kekerasan. 

Selain itu, para para pemain dalam film ini berhasil menciptakan karakter dan sifat yang pas banget dengan cerita sehingga saya bisa ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh para pemain. Saya seperti ikut dalam ceritanya. Saya sih memberi apresiasi lebih pada Prilly dan Surya Saputra deh, mereka berdua bisa berakting dengan sangat baik. 

Pemilihan soundtrack film yang relate dengan kisah dalam film itu sendiri saya pikir menjadi nilai tambah yaa buat penonton makin menghayati isi cerita dalam film ini. Musik-musik lain juga menyentuh dan makin menciptakan suasana haru. Seperti saat sesi curhat di komunitas yang diasuh oleh Nina yang diperankan Widi mulia. 

Bolehkan Sekali Ini Saja Kumenangis memiliki pesan moral yang kuat yaitu mengajarkan tentang sebuah proses penerimaan atas semua yang sudah terjadi dalam hidup. Bagaimana mengelola perasaan marah, sedih dan kecewa dengan baik sehingga tidak memberi dampak negatif terhadap kesehatan mental. Selain itu penonton juga diberi sebuah pesan bahwa seburuk apapun manusia selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik di kemudian hari.

Kekurangan Film

Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis menurut saya alurnya lambat yaa sehingga cenderung monoton atau mungkin karena film ini temanya sedih yaa jadi yaa memang jadi lambat. Menindak lanjuti sebuah konflik jadi bertele-tele…wkwkwk..saya jadi geregetan deh. 

Film yang berdurasi satu jam empat puluh satu menit ini jika boleh saya catat hanya menampilkan setting cerita di rumah, kantor dan tempat konsultasi. Jadi yaa agak bosen gitu melihat lokasinya itu lagi itu lagi. 

Akhir cerita tidak memuaskan saya karena saya gak tau apakah keluarga Tari ini akhirnya bahagia atau tidak yaa. Soalnya tidak ada ending yang menjelaskan tentang hal ini. Yaa…jadi silahkan penonton sendiri yang menyimpulkan akhir cerita mereka. Tapi Tari dan Ayah sukses membuat saya menangis di akhir cerita film ini. Huhuhu…saya sediiih 😭😭😭

So faar….film ini baguuus…..layak ditonton oleh seluruh keluarga. Amaaan gak ada adegan yang aneh-aneh juga yang harus disensor.  

 

0 Shares:
25 comments
  1. Miris sih, makin hari makin banyak aja kasus KDRT ini. Bahkan mengarah ke tindakan yang lebih kejam lagi, misalnya aja pembunuhan. Meski sudah ada hukum yang jelas, tapi pelaku seolah nggak jera dan nggak takut berhadapan dengan hukum. Semoga aja setelah film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” tayang, bisa menjadi pembelajaran, terutama bagi mereka yang menghadapi pernikahan di kemudian hari.

  2. KDRT verbal aja tersiksa apalagi KDRT fisik dan finansial. Tapi kalau istri yg jadi korban dia gak mau pergi karena rata-rata mikir kasihan anaknya gak punya bapak. Tapi lebih kasihan lagi nasibnya karena bisa depresi ngadepin suami gila macam itu.
    Alhamdulillah kalau ibunya Tari berhasil lari ya.

  3. Gemes kalau lihat film dengan tema KDRT ini tapi ya memang harus diangkat paling tidak memberikan contoh bahwa perempuan juga hrus memiliki sikap dan membela dirinya sendiri. Fenomena gunung es, yang terungkap baru sedikit, padahal yang belum terungkap jauh lebih banyak. Rata-rata mereka bertahan katanya demi anak, tapi kalau anak juga sudah menjadi korban apakah tetap perlu dipertahankan?

  4. Pas film ini tayang di bioskop, akutu nontonin konten-konten Dikta Prilly sampek pingin mreka beneran jadi pasangan in realyfe. Yampuunn.. maaff.. mang hobinya begini ya.. ngajak main kapal-kapalan mluluu..
    Tapi endingnya, skarang Prilly uda sama Omara.
    Tetep im fain, kincana, tenk tenk tenk tenk tenk sii..

    Dan alhamdulillah, akhirnya film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis ini tayang di OTT si merah.
    Belum nonton tapi uda kepo dari reviewer movie indo di channel “Ngelantur Indonesia”.
    Jadi uda ada sedikit gambaran mengenai setting sampai plot story linenya yang digambarkan ka Heni lambaaann..

    Tapi ternyata, film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis ini mencontoh film psikologis amrik gituu..
    Yang ada kelas konsultasi.. Karena di Indo sendiri, gambaran kelas-kelas seperti ini belum ada yaa..
    Karena tingkat kepedulian terhadap isu mental health yang masih sangat awam.

    Dan Sinemaku Pictures beberapa karyanya fokus banget ke isu mental health ini.
    Jadi memang terlihat beda dengan genre film Indonesia pada umumnya yaa..
    Aku apresiasi banget Umay Shahab dan Prilly Latuconsina sebagai pemilik rumah produksi anak muda yang mendobrak strereotype film indonesia yang isinya selingkuh, hantu, dan esek-esek.

  5. Ini salah satu film terbaik yang saya tonton pada 2024 lalu. Suka sekali dengan akting natural Prilly sebagai anak yang mencoba tegar di tengah lingkungan yang toxic.
    Walaupun ending nya open, lumayan puas dan bisa menyimpulkan bagaimana dengan nasib setiap karakter pada film ini

  6. Aku pernah tahu seorang ayah yang melakukan KDRT finansial pada anak perempuannya. Dari luar, ayah ini nampak amat menyayangi si anak perempuan. Tapi, belakangan aku baru tahu kalau ayahnya adalah penjudi kambuhan yang kerap memaksa anaknya tuh membayari nafsunya buat judi. Miris banget.

    Membaca ini, aku jadi ingat sama apa yang sudah kulihat ini tadi.

  7. Anu … Meskipun ada UU tentang KDRT, penegak hukum juga cenderung (pura-pura) tidak tahu sih. Di sini kekerasan emosional dianggap tidak ada oleh seorang oknum hakim.

  8. Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” dengan berani mengangkat isu KDRT yang masih sering terjadi. Potret kekerasan yang ditampilkan sangat menyentuh dan membuat penonton merasakan kepedihan korban. Film ini menjadi pengingat bahwa KDRT bukanlah masalah pribadi, melainkan isu sosial yang harus diatasi bersama.

  9. Ada banyak alasan kenapa perempuan yang mengalami KDRT nggak berani pergi. Bukan sekadar bucin atau alasan “demi anak” (yang faktanya justru merusak mental anak). Masyarakat juga harus bertanggung jawab tentang ini. Di real life, stigma janda itu sangat mengerikan. Plus dogma bahwa istri yang baik adalah yang taat pada suami, menerima suami, apa pun keadaannya. Pergi atau gugat cerai? Langsung divonis sebagai ahli neraka.

  10. Kasus KDRT ini memang banya dialami oleh Ibu-ibu dalam kehiduapan nyata. Dan memang, masih banyak yang bertahan, walau tersiksa hati dan jiwa dengan alasan keutuhan rumah tangga atau anak-anak. Padahal kalau di pertahankan juga, tidak hanya berdampak psikis pada sang ibu, tapi anak-anak. Jadi butuh keberanian kuat untuk keluar dan memulai hidup yang baru.

  11. Sedih jg lihat review film ini. Tp emg tema KDRT cocok bgt ama kehidupa skrg yg lagi banyak kasus KDRT itu. Dan bener, kasus terakhir yg di Indramayu itu kak. Mirisss. Tp ya itu kenyataan.

    Anehnya, film kyk gini kok ga laris2 banget ya. Padahal banyak pelajaran penting dr film tsb. Atau malah yang ditangkap justru cinta2annya yak. Sebel deh gw. Apalagi kasus KDRT di Indonesia tuh cenderung meningkat. Berarti kan kyk kasus KDRT itu malah dinormalisasi.

    Dan utk ibu yang mencoba bertahan meski mendapat siksaan suami, kdg tuh dia menyayangi anaknya. Nanti di sekolah malah kena bully krn korban perceraian. Ga pny ayah dsb. Mknya sebagian ibu2 masih betah dlm kasus KDRT. Plus ga ada bantuan dr org lain utk kabur sih.

  12. Kalo genrenya drama, kerap kali menggunakan alur lambat, mungkin agar lebih mengena dan paham dengan jalan ceritanya, kecuali thriller genrenya.
    Daku belum nonton film ini Kak Hen, keknya agak gimana ceritanya, tapi penasaran juga

  13. Hehehe, jadi ikut membayangkan lambatnya alur cerita, apalagi kalau ceritanya sedih, biasanya makin bikin gregetan. Hmmm… bisa jadi pertimbangan nih maau nonton apa nggak, apalagi saat ini saya lagi menjauhi film-film yang bertema kesedihan. Lagi rapuh soalnya…. hehehe….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like