Kado Untuk Bapak

Kado untuk Bapak

Bagian 1

Hari ini bapak berulang tahun, jangankan kado untuk bapak, menghidupi diri sendiri saja aku tak bisa. Kamar rumah sakit ini seakan mengajakku berkelahi. Kulihat dindingnya seperti mempunyai mata yang sedang melotot ke arahku. Aku alihkan pandangan menatap ranjang pasien dimana ada Bapakku yang sedang tertidur pulas disana. Bapak seharusnya bisa pulang hari ini, namun aku belum punya biaya untuk melunasi biaya rumah sakit. Jadi bapak belum bisa kubawa pulang.

Namun aku bingung mengapa ranjang itu pun seperti mempunyai tangan yang merentang rentang memberi isyarat agar bapak dan aku keluar dari kamar ruangan ini. Aku menghela nafas panjang, kepalaku berputar berat bukan kepalang. Dalam dua hari ini aku benar-benar dibuat bingung dengan biaya rumah sakit bapak dan biaya akomodasi selama aku menjaga bapak di rumah sakit.

Meskipun bapak memakai BPJS namun ada obat yang tidak ditanggung oleh ansuransi pemerintah tersebut. Sehingga aku harus membayarnya. Jangankan untuk membayar biaya obat tambahan, uang buat makan selama aku di rumah sakit pun tak ada sepeser pun. Aku bingung. Perlahan aku merogoh kantong kecil di tas, ada seuntai kalung pemberian ibu di kampung. Ibu berpesan jika kondisi terdesak aku boleh menjualnya. Kalung itu adalah kalung peninggalan nenek dan merupakan harta satu-satunya yang ibu miliki. Tak sadar mataku berair dan mengembun…ah ibu maafkan anakmu yang belum bisa memberi kebahagiaan untukmu.

Bagian II

Mobil yang kutumpangi melesat terbang. Aku harus menjemput atasanku dari tempatnya mengisi acara. Aku adalah supir salah satu pengusaha terkenal di daerahku. Setiap hari aku mengantarkannya ke tempat-tempat beliau berbisnis. Daerah yang kulewati adalah wilayah terpencil. Sepanjang jalan gelap menyusuri hutan pinus. Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok bayangan manusia penuh berlumuran darah. Dia melambai lambaikan tangannya memintaku berhenti. Aku ragu dan galau bukan kepalang, antara ingin menolong dan rasa takut yang menyergapku.

Akhirnya dengan segenap rasa yang ada aku menghentikan mobil setelah melewatinya beberapa meter. Aku putuskan untuk menghampirinya.

“Terima kasih pa mau berhenti, sudah lebih dari lima mobil saya coba hentikan namun tidak ada yang mau berhenti. Saya paham mereka pasti takut, khawatir saya adalah orang jahat,” tutur orang itu terbata-bata sambil tertidur di aspal sisi jalan.

“Akang jangan banyak bicara, mari ikut saya ke mantri terdekat,”kataku membalas ucapannya.

Kebetulan aku pernah melewati rute jalan ini beberapa kali. Aku sedikit hapal jika tidak jauh dari tempat ini ada rumah seorang mantri. Aku mengetahuinya dari plang nama yang ada di depan rumahnya. Aku pun segera membawa anak muda tersebut untuk kunaikkan ke dalam mobil. Kebetulan sekali di perjalanan kali ini aku membawa teman sehingga kuminta temanku untuk membawa motor yang dibawa anak muda tersebut.

Syukur alhamdulillah Bapak Mantri mau menerima kami dan mengobati anak muda yang mengalami kecelakaan tersebut. Rupanya dia korban begal namun berhasil melarikan diri. Akhirnya kutitipkan anak muda tersebut disana karena aku harus segera menjemput atasanku. Namun , keputusanku menolongnya berdampak besar padaku. Atasan memecatku karena terlambat menjemputnya.

Bagian III

Ruangan rumah sakit ini masih menatapku dengan tajam dan sinis. Dalam halusinasiku dinding ini berkata, “Kamu ngapain masih disini, ayo segera bapak kamu ajak pulang saja kalau tidak ada uang untuk membayar biaya rumah sakit.”

“Assalamualaikum,”kudengar ada suara yang mengucap salam

“Waalaikum salam,”jawabku sambil menoleh.

“Maaf Pak, ditunggu di ruangan perawat karena harus ada yang ditandatangani,”

Aku terkulai lunglai, aku tahu itu adalah tagihan yang harus kubayar.

Aku pun segera menuju ke ruang perawat.

Sesampainya disana perawat memintaku menandatangani lembar bukti pelunasan. Aku terheran heran. Aku merasa belum melunasi sepeser pun uang buat biaya obat dan perawatan bapak. Aku terhenyak , ya Tuhan ini kado untuk bapak.

Bagian IV

Mobil taksi online yang sudah dipesan untuk mengantar kami pulang sudah datang. Seorang dokter muda mengantarkan kami hingga ke teras selasar depan rumah sakit. Seiring suara gema takbir yang bersahutan dari berbagai masjid menyambut datangnya idul fitri esok hari begitu mengharu biru.

Bapak…ini adalah kado untuk bapak dari anakmu yang belum bisa berbakti sepenuh hati.

Terima kasih anak muda, sungguh aku tidak pernah memintamu untuk berbalas budi atas apa yang sudah kulakukan padamu beberapa tahun lampau. Namun mungkin ini adalah jalan yang sudah dipilih Allah untukku.

Bagian V

Kini aku berada di samping sang dokter muda, siap mengantarkannya kemana pun dia pergi. Terima kasih Dok…

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like